Sahabat adalah teman yang dekat dan selalu ada dengan kita. Sahabat akan selalu ada disaat sedih maupun bahagia. Dia akan ada untuk menghibur serta menemani hati yang kesepian. Apapun yang terjadi dia tetap akan selalu bersama dengan kita. Namun pantaskah ini disebut persahabatan jika hanya akan jadi hancur oleh satu orang saja? Pantaskah disebut sebagai sahabat jika hanya memikirkan perasaan cintanya sendiri?
Suatu hari, ada dua gadis yang telah menjalani persahabatan mereka selama 2 tahun. Mereka adalah Mita dan Vera. Persahabatan mereka bermula dan semakin erat karena mereka bersekolah di tempat yang sama. Mita adalah seorang yang kaya, pemalas dan selalu dimanjakan, hidupnya selalu senang karena semua yang dia inginkan pasti akan selalu dikabulkan orang tuanya. Vera adalah seorang yang rajin, baik hati, sederhana, dan mandiri. Ia tinggal di tengah-tengah keluarga yang memiliki kemandirian yang kuat. Ia sudah dilatih dari kecil untuk bersikap mandiri dan hidup apa adanya, sehingga ia tidak banyak menuntut apapun dari orang tuanya.
Walaupun latar belakang mereka berbeda, namun mereka sangat berteman baik dan saling membantu. Apalagi sekarang mereka sudah sekelas. Jadi, kebersamaan mereka di sekolah pun semakin dekat. Jika ada tugas kelompok, mereka selalu bekerja sama dengan baik. Mita bertugas untuk membeli semua bahan-bahan yang dibutuhkan dan Vera bertugas untuk menyusun pembuatannya.
Hidup mereka sangat memberikan contoh bagi teman-temannya bahwa tak perduli seperti apa latar belakang keluargamu tetapi jika dilandasi pertemanan yang tulus pasti mampu menjadi sahabat yang baik.
Dua minggu kemudian, sekolah mereka kedatangan murid baru. Murid baru itu bernama Revo. Ia adalah siswa yang baik, berpenampilan menarik, pintar, dan berasal dari keluarga yang mencukupi. Ia dimasukkan ke kelas Mita dan Vera. Tak disangka-sangka, ternyata Revo merupakan teman lama Vera sewaktu kecil. Vera tampak senang. Namun inilah awal persahabatan Mita dan Vera pecah.
“Hai Vera. Lama kita tidak bertemu.” Sapa Revo.
“Eh, hai Rev. Ia yah!” Jawab Vera sambil melihat Revo dengan wajah memerah.
“Gimana kabarmu,Ver?”
“Baik-baik aja. Kamu?”
“Sama dong!”
Vera dan Revo terus melanjutkan percakapan mereka. Sementara Mita yang melihat keadaan itu tampaknya mulai marah.
“Huh! Harusnya kan aku yang disapanya duluan bukan Vera.” Kata Mita dalam hati. “Pasti ini ada apa-apanya. Pokoknya aku harus mendapatkannya duluan dibanding Vera”
Rupanya Mita menyukai Revo sejak pertama kali ia melihatnya. Sejak kejadian itu, Mita sudah jarang sekali tampak bersama-sama dengan Vera. Vera tampak bingung dengan sikap Mita yang seakan-akan mencoba untuk menjauh darinya. Vera mencoba bertanya kepada teman-teman sekelasnya yang ternyata juga merasakan hal yang aneh dari Mita, sama seperti yang Vera rasakan.
“Rin, kamu tahu nggak kenapa Mita belakangan ini tampak seperti ingin menjauhiku dan juga tampak cuek?” tanya Vera kepada salah satu teman sekelasnya.
“Nggak tuh! Tapi kayanya dia belakangan ini ingin banget mencuri perhatiannya murid baru itu.” Jawab Rini.
“Maksudmu Revo? Tapi untuk apa?”
“Ia dia. Kalo itu sih aku juga nggak tahu,Ver. Tanya aja langsung.”
“Akan aku coba. Makasih, yah!”
Vera masih mencoba mencari tahu apa alasanya. Dan, akhirnya ia tahu bahwa Mita ternyata menyukai teman lamanya itu. Tapi Vera terus berpikir. Dengan hal itu kenapa Mita harus menjauhinya? Apa yang salah dengannya sekarang?
Sudah berminggu-minggu Vera dan Mita sudah tidak saling menegur, bahkan untuk saling melirik saja kayanya Mita sudah tidak sudi. Vera sudah terlanjur sakit hati terhadap perlakuan Mita kepadanya. Semua permintaan maaf yang dikirim Vera tidak ditanggapi Mita. Hingga suatu saat Mita mengirimkan pesan pada Vera. Pesan itu hanya berisi dua kata saja. “Jauhi aku.”
Vera sudah tidak pusing lagi dengan semua tingkah laku Mita. “Apa mungkin hanya dengan hal sepeleh sampai persahabatan mereka harus berakhir seperti ini? Tapi jika suatu hari nanti Mita mau berteman denganku pasti akan kuterima dia lagi sebagai sahabat.” Itulah yang ada dibenaknya.
Namun kejauhan Mita dengan Vera membuat Revo semakin dekat dengan Vera. Mereka selalu kelihatan bersama dalam setiap waktu. Bahkan, Revo pun mau setempat duduk dengan Vera di kelas. Bagi Vera hanya Revo satu-satunya orang yang mampu membuatnya tertawa lagi dan mengisi kekosongannya sekarang ini.
Diam-diam, Revo menaruh hati kepada Vera. Perasaan Revo kepada Vera sudah lama dipendamnya dalam hati. Dulu sejak berpisah dengan Vera dan pergi keluarga kota, Revo telah berjanji dalam hatinya untuk mencari Vera dan ingin selalu bersama-sama dengannya dan tak ada satu pun yang bisa mengubah hal itu.
Revo sengaja, terus mengantar dan menjemput Vera ke sekolah agar ia bisa punya banyak waktu untuk bersama dengan Vera. Hampir setiap sabtu, ia mengajak Vera keluar untuk makan dan jalan-jalan. Hal ini tidalah sulit dilakukannya karena ia sudah sangat mengenal dan sudah sangat akrab dengan keluarga Vera.
Sampai suatu saat Mita melihat Vera pergi bersama dengan Revo. Ia mengikuti mereka sampai di sebuah restoran. Ia terus menatap gerak-gerik mereka dan mencoba untuk duduk lebih dekat agar ia bisa mendengar semua percakapan mereka. Revo dan Vera tidak menyadari hal itu sehingga mereka terus bercakap-cakap dan membahas suatu cerita kesukaan Vera.
“Ternyata kamu masih ingat cerita kesukaanku dulu.” Bahas Vera.
“Yaph, aku kan selalu membacakannya dulu saat kita selesai bermain.”
“Hmmm, ia juga yah! Maaf Rev karena itu sudah lama jadi aku agak sedikit lupa.”
“Nggak masalah. Tapi kalo yang ini kamu pasti ingat!”
“Yang mana?” tanya Vera dengan wajah yang penasaran.
“Saat aku bacakan cerita itu, kamu pasti langsung tertidur dibahuku.”
“Hahahaha. Udah dong, aku jadi malu nih!” Vera tertawa geli dengan wajah yang memerah seperti udang yang mereka santap.
Kebersamaan mereka membuat hati Mita seakan-akan terbakar. Mita sangat cemburu dengan Vera. Minuman dingin yang dipegangnya seolah-olah menjadi panas seketika, seiring dengan panas hatinya.
“Ver, sebenarnya aku mengajak kamu kesini bukan hanya ingin sekedar makan dan bercanda denganmu. Ada hal lain juga yang menurut aku penting dan sudah lama aku pendam” tanya Revo dengan memasang wajah yang tampak serius. Yang membuat Vera menjadi sangat penasaran.
Mita yang mendengar perkataan Revo pun tahu bahwa saat ia ingin manyatakan perasaannya kepada Vera. Takut perasaan itu akan terungkap, Mita pun mencari akal agar ia bisa menggagalkannya. Mita lalu mencoba berjalan di samping mereka dan berpura-pura menumpahkan minuman ke baju Revo.
“Apa-apaan sih kamu Mita?” tanya Revo sambil mengeringkan bajunya.
“Maaf...maaf aku nggak sengaja,Rev.” Jawab Mita sambil sedikit tersenyum atas keberhasilannya.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Vera.
“Hah! So manis. Biasa aja kali,Ver.” Balas Mita dengan nada sinis.
Mendengar perkataan Mita, Revo menjadi sangat marah dan memarahi Mita serta mengajak Vera pulang.
“Mita, kamu itu apa sih? Orang apa bukan? Yang salah kamu, kenapa jadi Vera yang dimarahin. Kamu itu bukan siapa-siapa aku dan juga bukan siapa-siapanya Vera lagi. Jadi, nggak usah ikut campur apa-apa. Dasar cewek sial.” Kata Revo sambil seakan-akan ingin memukul Mita. “Ayo, pulang. Nggak usah perdulikan cewek ini. Dia sudah bukan sahabatmu. Lagian sahabat macam apa yang seperti ini.”
Mita hanya mampu terdiam. Matanya berkaca-kaca dan wajahnya memerah. Ia lalu pergi. Sesampainya di rumah, Mita menangis dan berkata, “Kenapa dia bicara seperti itu? Kenapa dia lebih memilih cewek itu dibanding aku? Apa sih kurangnya aku? Aku masih lebih baik dan lebih menarik dibandingkan dengannya.”
Sementara itu Vera dan Revo sudah dalam perjalanan ke rumah Vera. Vera tampak sedih dengan apa yang dikatakan Mita. Ia masih mengingat semua kata-katanya tadi. Tiba-tiba air matanya tak dapat ditahan. Ia menangis dan terus menangis. Revo tak tega melihatnya. Ia memeluk erat Vera dan mencoba menghiburnya, “Sudahlah, perkataannya tak usah disimpan dalam hati. Anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa.”
Vera mencoba menghapus air matanya. Dan mencoba untuk tersenyum kepada Revo.
“Rev, bukannya tadi kamu ingin mengatakan sesuatu? Katakan saja sekarang.”
Sejenak Revo berpikir dan berkata, “Mungkin besok saja. Nah, sudah sampai rumah.Sebaiknya, sekarang kamu masuk dan tidur karena besok kita ada ujian?”
“Oh yah, aku lupa. Aku masuk dulu yah, bye! Hati-hati di jalan”
“Bye. Aku jemput kamu pagi-pagi yah.”
“Oke!”
Keesokan harinya, saat bel istirahat berbunyi, Revo mengajak Vera ke kantin. Rupanya saat inilah ia akan mengungkapkan seluruh isi hatinya kepada Vera.
“Ver, aku ingin lanjutkan perkataanku kemarin.”
“Kamu mau bilang apa?”
“Sebenarnya aku sudah lama menyukaimu. Sejak kita bersama-sama dulu, sampai sekarang perasaanku tidak pernah berubah.”
“Maksudnya?”
“Aku itu suka sama kamu.”
“Sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Tapi kita berteman dulu yah! Tapi kamu pasti tahukan jawabanku.”
“Yes...yes...yes. Makasih,Ver, makasih banyak.” Revo tampak senang dan melompat-lompat kegirangan.
Mereka pun saling tertawa karena kejadian itu. Tiba-tiba Mita datang dengan wajah yang seakan-akan ingin marah besar kepada mereka berdua. Terjadilah adu mulut di kantin itu.
“Jadi ini yang buat kamu dekat dengan Revo? Supaya Revo juga suka sama kamu dan supaya dia tidak akan direbut cewek lain terutama aku, iya?” Tanya Mita dengan nada tinggi.
“Kenapa kamu marah-marah? Seharusnya aku yang tanya, hanya karena rasa cintamu itu kamu lebih memilih untuk memutuskan hubungan persahabatan kita yang sudah lama tanpa ada alasan yang jelas?” Balas Vera.
“Semua itu karena kamu. Karena kamu lebih dekat dengannya dibanding aku. Seharusnya kalau kamu mau bersaing, bersainglah dengan sehat tidak seperti ini”
“Asal kamu tahu Mita, Revo ini adalah temanku sejak kecil. Jauh sebelum mengenalmu, aku sudah mengenalnya dengan baik. Jadi, kamu nggak ada hak apa pun untuk menyuruh aku agar tidak dekat dengannya.”
“Tapi kan kamu.......” Balas Mita yang kemudian dipotong oleh Revo.
“Sudah cukup Mita, sudah cukup semuanya. Kamu selalu menyalahkan Vera tanpa menanyakan apa pun padaku. Tentang perasaanku atau semacamnya.”
“Memangnya kamu tidak menyukaiku?” tanya Mita.
“Tidak sama sekali. Karena dari dulu sampai sekarang hatiku hanya untuknya. Hanya untuk Vera seorang. Aku telah berjanji soal itu pada diriku sendiri. Sebaiknya kamu pergi saja karena sudah tidak ada alasan lain untukmu.”
“Kalian semua tidak berperasaan.” Mita pun pergi sambil memasang wajah yang tak tentu.
Bagi Vera inilah akhir persahabatan mereka yang kandas dan hancur hanya karena masalah cinta. Sahabat yang baik sebenarnya, bisa saling terbuka dan bicara dengan jujur agar tidak ada kesalahpahaman. Namun Vera sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia akan belajar untuk menjadi sahabat yang benar-benar sempurna dan membuka hatinya untuk siapa pun yang mau menjadi sahabatnya kelak. Agar semuanya tak terulang kembali seperti saat ini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar