you are very special in my life
you have a place in my heart
only you who can replace him my heart
though we often quarrel
due to our own selfishness
but my heart still loves you
though you often make me jealous
and often makes me angry
but my heart will keep you
you have come to replace
replace people who have me love
replace those that mean in my life
I'm sorry dear
I'm sorry for any mistakes
what I did to you during this
sorry for rant to you
I apologize for the conduct of this month
sorry for everything
I hope you can forgive me
and willing to take me back
though I know your heart is very sore on my behavior
I beg you do not ever hate me
though I never told you to hate me
because I'm still very dear to you
Alkisah lahirlah dua anak kembar yang selang waktu kelahiran mereka hanya berbeda dua menit,mereka berdua terlahir di tengah keluarga yang terhormat,yang memiliki perusahaan terkemuka di Jakarta.
Si kakak yang bernama Roi adalah anak yang ganteng,cukup pintar,dan sangat suka dunia otomotif.
Sedangkan adiknya bernama Rio adalah anak yang pintar,dan juga ganteng,tapi berbeda dengan kakaknya,dia tidak suka dunia otomotif,melainkan lebih suka dunia olahraga. Dia juga anak yang penurut pada orang tuanya.
Di umur mereka yang ke-16 tahun,mereka akan di uji oleh orang tua mereka tanpa sepengatahuan mereka untuk menjadi pewaris tunggal perusahaan.Perusahaan itu bernama Gajah Mada,yaitu perusahaan terbesar milik keluarga mereka.Setelah diadakan pengujian,mereka berduapun lolos dari tantangan tersebut.
“Ka,senang yah.Akhirnya kita bisa menyelesaikan tugas dari mami dan papi”
“Biasa aja,kalau hanya disuruh melakukan itu,aku juga bisa.Tapi untuk apa yah tugas itu?”
“Aku juga tidak tahu”kata Rio. “Apa mungkin kita di uji untuk menjadi pewaris perusahaan?”
“Mungkin saja,yang pasti aku yang akan jadi ahli waris perusahaan Gajah Mada.”
“Terserahlah,aku juga tidak berminat dengan hal itu.”
“Baguslah kalau begitu,aku tidak perlu repot-repot mengurusmu.Aku ke kamar dulu yah!”sambung ka Roi.
Ka Roi sebenarnya sangat baik padaku,tapi akhir-akhir ini ka Roi lebih sibuk dengan urusannya sendiri.Ia lebih banyak mengurusi urusan otomotif di luar rumah,dan sering pulang larut malam.Akhir-akhir ini dia lebih merasa kalau ia tersaingi denganku,untuk menjadi ahli waris.Sebenarnya aku ingin langsung beri perusahaan itu kepada kakak bila nanti perusahaan itu diwariskan kepadaku. Tapi aku sempat mendengar pembicaraan mami dan papi bahwa untuk memilih siapa yang akan menjadi ahli waris perusahaan antara aku dan kakak harus secara adil tidak boleh ada yang saling beri begitu saja.
Tapi aku yakin, kalau kakak Roi ingin perusahaan itu, dia pasti bisa mendapatkannya sendiri. Dia pasti bisa menunjukkannya pada mami dan papi.
Setelah itu, diruang tengah, mami memanggil kami berdua.
“Roi, Rio”
Roi langsung berlari dari kamarnya menuju ruang tengah sambil memegang salah satu majalah otomotif kesukaannya.Aku juga langsung pergi menuju ruang tengah dari kamarku.
“Iya, mami ada apa?” tanya ka Roi.
“Ada apa mami?” tanyaku
“Kalian berdua tidurlah sekarang karena besok kalian akan pergi mengunjungi nenek dan kakek di desa, jadi beristirahatlah sekarang agar besok kalian bisa bangun pagi dan bersiap-siap dengan cepat.”
“Tapi mami?”
“Tapi kenapa Roi?”
“Tapi kenapa papi dan mami baru bilang sekarang? Kalau papi bilangnya kemarin, aku pasti sudah beli hadiah untuk kakek dan nenek”
“Oleh-olehnya akan papi kirim besok”
“Kirim? Memangnya besok papi nggak ikut sama kita?”
“Iya. Papi dan mami masih banyak pekerjaan jadi belum bisa pergi ke desa. Jadi kalian dulu yang pergi. Nanti papi dan mami ikut nyusul”
“Kapan papi dan mami nyusul?”
“Setelah pekerjaan kami selesai.”
Aku dan kakak langsung ke kamar masing-masing setelah perbincangan kami tadi berakhir.
Keesokkan harinya aku dan kakak pun pergi ke desa bersama dengan Pak Suryo sopir kami. Perjalanan yang kami butuhkan untuk sampai ke desa sekitar satu setengah hari. Akhirnya, kami tiba di desa, di rumah kakek dan nenek. Kami sudah tidak pernah bertemu dengan kakek dan nenek sekitar dua tahun lamanya. Setelah kami bertemu dengan kakek dan nenek, ternyata mereka masih sama seperti dulu, tetap baik dan selalu dapat membahagiakan kami. Nenek dan kakek juga selalu tampak akur dan tak pernah sesekali kami mendengar atau melihat mereka bertengkar. Kakek selalu tetap tersenyum walaupun ia sudah tua dan duduk dikursi roda.
Disini kami dibuat lebih mandiri. Aku dan ka Roi harus mengatur diri sendiri serta semua barang kami atau keperluan kami harus dijaga dan dirapikan masing-masing, dan kami pun tak boleh bermanja-manja.
Keesokkan harinya, mami memberitahukan bahwa ia akan datang kesini. Maka, kakek dan nenek akan pergi menjemput mami dan papi. Kakek dan nenek menyuruh kami untuk membersihkan rumah serta menjaga rumah selagi kakek dan nenek pergi. Setelah memberitahukan hal itu mereka langsung pergi.
Perjalanan yang akan dilalui sekitar dua hari. Sementara itu aku dan kakak Roi ditinggalkan berdua saja. Kami pun membersihkan rumah dengan teliti.
“Aku sudah capek nih! Rio gantiin kakak dong! Kakak ada perlu sebentar.”
“Iya ka.” Jawabku.
Kakak langsung meninggalkan aku sendiri membersihkan rumah. Sementara itu kakak sibuk dengan urusan otomotifnya itu. Dia sibuk membongkar-bongkar mobilnya dan hanya membuat halaman rumah menjadi kotor.
Aku pun segera menyelesaikan tugasku dan membersihkan kamar depan. Tiba-tiba aku menemukan sebuah kertas yang kelihatannya sebuah kertas penting. Aku langsung menyembunyikan kertas itu. Lalu aku kembali melanjutkan tugasku.
Dua hari kemudian. Kakek dan nenek beserta mami dan papi tiba dirumah. Saat itu ka Roi lagi asik tidur dan aku sedang membersihkan halaman.
“Hai mami, hai papi”
“Hai juga Rio. Dimana kakakmu?”
“Kakak sedang tidur mami”
“Sudah sejak kapan?”
“Sejak tadi belum bangun. Sebenarnya tugas kakak Roi pagi ini yang harus membersihkan halaman. Tapi karena ia belum bangun jadi aku yang gantiin dia.”
“Cepat bangunkan dia” jawab mami sambil marah-marah.
“Ia mami...”
“Ka....ka....ka Roi. Cepat bangun mami dan papi udah datang.”
“Apa? Kapan sampainya?” jawab Ka Roi dengan kaget sambil segera melompat dari tempat tidur.
“Belum lama sih! Baru saja sampai”
“Kenapa kamu baru bangunkan aku?”
“Aku nggak tahu kalau mami dan papi akan datang pagi ini”
Ka Roi pun segera pergi menuju mami dan papi. Tampaknya ia sedikit marah-marah.
“Roi... Kenapa kamu tidak melaksanakan tugasmu?”
“Maaf mami. Aku kelelahan semalam”
“Emangnya kamu buat apa semalam?”
“Aku lagi memperbaikki mobilku”
“Itu terus yang kamu pikirkan. Sementara itu, kamu biarkan adik kamu bekerja sendiri. Seharusnya kamu mencontohi adikmu itu. Ia tidak pernah tidak melaksanakan tugasnya walaupun ia kelelahan”
“Maaf mami..”
“Mami, aku dapat kertas di bawah tempat tidur di kamar depan” ucapkku sambil memotong pembicaraan mami dan kakak.
“Sebenarnya itu adalah kertas surat warisan perusahaan yang nantinya akan diberikan kepada salah satu dari kalian yang bisa bertanggung jawab dan melaksanakan tugasnya dengan baik dan benar. Jadi, selama ini kamu yang membersihkan rumah. Bukan kakak kamu?”
“Dari mana mami tahu?”
“Dengan kamu menemukan kertas itu maka mami tahu bahwa kamulah yang membersihkan rumah. Dan juga rumah ini memang terlihat sangat bersih. Jika kakakmu yang membersihkannya pasti tidak sebersih ini. Jadi kamulah yang berhak mewarisi perusahaan Gajah Mada”
“Tapi mami aku nggak butuh semua itu aku juga nggak mau”
“Tapi kamu harus”
“Baiklah mami”
Akhirnya , dengan aku yang selalu penurut dan rajin, berhak mewarisi perusahaan keluarga dan hidup bahagia. Sedangkan kakak menyesal dengan perbuatannya. Ternyata rajin itu dapat membuahkan hasil yang membahagiakan.
Si kakak yang bernama Roi adalah anak yang ganteng,cukup pintar,dan sangat suka dunia otomotif.
Sedangkan adiknya bernama Rio adalah anak yang pintar,dan juga ganteng,tapi berbeda dengan kakaknya,dia tidak suka dunia otomotif,melainkan lebih suka dunia olahraga. Dia juga anak yang penurut pada orang tuanya.
Di umur mereka yang ke-16 tahun,mereka akan di uji oleh orang tua mereka tanpa sepengatahuan mereka untuk menjadi pewaris tunggal perusahaan.Perusahaan itu bernama Gajah Mada,yaitu perusahaan terbesar milik keluarga mereka.Setelah diadakan pengujian,mereka berduapun lolos dari tantangan tersebut.
“Ka,senang yah.Akhirnya kita bisa menyelesaikan tugas dari mami dan papi”
“Biasa aja,kalau hanya disuruh melakukan itu,aku juga bisa.Tapi untuk apa yah tugas itu?”
“Aku juga tidak tahu”kata Rio. “Apa mungkin kita di uji untuk menjadi pewaris perusahaan?”
“Mungkin saja,yang pasti aku yang akan jadi ahli waris perusahaan Gajah Mada.”
“Terserahlah,aku juga tidak berminat dengan hal itu.”
“Baguslah kalau begitu,aku tidak perlu repot-repot mengurusmu.Aku ke kamar dulu yah!”sambung ka Roi.
Ka Roi sebenarnya sangat baik padaku,tapi akhir-akhir ini ka Roi lebih sibuk dengan urusannya sendiri.Ia lebih banyak mengurusi urusan otomotif di luar rumah,dan sering pulang larut malam.Akhir-akhir ini dia lebih merasa kalau ia tersaingi denganku,untuk menjadi ahli waris.Sebenarnya aku ingin langsung beri perusahaan itu kepada kakak bila nanti perusahaan itu diwariskan kepadaku. Tapi aku sempat mendengar pembicaraan mami dan papi bahwa untuk memilih siapa yang akan menjadi ahli waris perusahaan antara aku dan kakak harus secara adil tidak boleh ada yang saling beri begitu saja.
Tapi aku yakin, kalau kakak Roi ingin perusahaan itu, dia pasti bisa mendapatkannya sendiri. Dia pasti bisa menunjukkannya pada mami dan papi.
Setelah itu, diruang tengah, mami memanggil kami berdua.
“Roi, Rio”
Roi langsung berlari dari kamarnya menuju ruang tengah sambil memegang salah satu majalah otomotif kesukaannya.Aku juga langsung pergi menuju ruang tengah dari kamarku.
“Iya, mami ada apa?” tanya ka Roi.
“Ada apa mami?” tanyaku
“Kalian berdua tidurlah sekarang karena besok kalian akan pergi mengunjungi nenek dan kakek di desa, jadi beristirahatlah sekarang agar besok kalian bisa bangun pagi dan bersiap-siap dengan cepat.”
“Tapi mami?”
“Tapi kenapa Roi?”
“Tapi kenapa papi dan mami baru bilang sekarang? Kalau papi bilangnya kemarin, aku pasti sudah beli hadiah untuk kakek dan nenek”
“Oleh-olehnya akan papi kirim besok”
“Kirim? Memangnya besok papi nggak ikut sama kita?”
“Iya. Papi dan mami masih banyak pekerjaan jadi belum bisa pergi ke desa. Jadi kalian dulu yang pergi. Nanti papi dan mami ikut nyusul”
“Kapan papi dan mami nyusul?”
“Setelah pekerjaan kami selesai.”
Aku dan kakak langsung ke kamar masing-masing setelah perbincangan kami tadi berakhir.
Keesokkan harinya aku dan kakak pun pergi ke desa bersama dengan Pak Suryo sopir kami. Perjalanan yang kami butuhkan untuk sampai ke desa sekitar satu setengah hari. Akhirnya, kami tiba di desa, di rumah kakek dan nenek. Kami sudah tidak pernah bertemu dengan kakek dan nenek sekitar dua tahun lamanya. Setelah kami bertemu dengan kakek dan nenek, ternyata mereka masih sama seperti dulu, tetap baik dan selalu dapat membahagiakan kami. Nenek dan kakek juga selalu tampak akur dan tak pernah sesekali kami mendengar atau melihat mereka bertengkar. Kakek selalu tetap tersenyum walaupun ia sudah tua dan duduk dikursi roda.
Disini kami dibuat lebih mandiri. Aku dan ka Roi harus mengatur diri sendiri serta semua barang kami atau keperluan kami harus dijaga dan dirapikan masing-masing, dan kami pun tak boleh bermanja-manja.
Keesokkan harinya, mami memberitahukan bahwa ia akan datang kesini. Maka, kakek dan nenek akan pergi menjemput mami dan papi. Kakek dan nenek menyuruh kami untuk membersihkan rumah serta menjaga rumah selagi kakek dan nenek pergi. Setelah memberitahukan hal itu mereka langsung pergi.
Perjalanan yang akan dilalui sekitar dua hari. Sementara itu aku dan kakak Roi ditinggalkan berdua saja. Kami pun membersihkan rumah dengan teliti.
“Aku sudah capek nih! Rio gantiin kakak dong! Kakak ada perlu sebentar.”
“Iya ka.” Jawabku.
Kakak langsung meninggalkan aku sendiri membersihkan rumah. Sementara itu kakak sibuk dengan urusan otomotifnya itu. Dia sibuk membongkar-bongkar mobilnya dan hanya membuat halaman rumah menjadi kotor.
Aku pun segera menyelesaikan tugasku dan membersihkan kamar depan. Tiba-tiba aku menemukan sebuah kertas yang kelihatannya sebuah kertas penting. Aku langsung menyembunyikan kertas itu. Lalu aku kembali melanjutkan tugasku.
Dua hari kemudian. Kakek dan nenek beserta mami dan papi tiba dirumah. Saat itu ka Roi lagi asik tidur dan aku sedang membersihkan halaman.
“Hai mami, hai papi”
“Hai juga Rio. Dimana kakakmu?”
“Kakak sedang tidur mami”
“Sudah sejak kapan?”
“Sejak tadi belum bangun. Sebenarnya tugas kakak Roi pagi ini yang harus membersihkan halaman. Tapi karena ia belum bangun jadi aku yang gantiin dia.”
“Cepat bangunkan dia” jawab mami sambil marah-marah.
“Ia mami...”
“Ka....ka....ka Roi. Cepat bangun mami dan papi udah datang.”
“Apa? Kapan sampainya?” jawab Ka Roi dengan kaget sambil segera melompat dari tempat tidur.
“Belum lama sih! Baru saja sampai”
“Kenapa kamu baru bangunkan aku?”
“Aku nggak tahu kalau mami dan papi akan datang pagi ini”
Ka Roi pun segera pergi menuju mami dan papi. Tampaknya ia sedikit marah-marah.
“Roi... Kenapa kamu tidak melaksanakan tugasmu?”
“Maaf mami. Aku kelelahan semalam”
“Emangnya kamu buat apa semalam?”
“Aku lagi memperbaikki mobilku”
“Itu terus yang kamu pikirkan. Sementara itu, kamu biarkan adik kamu bekerja sendiri. Seharusnya kamu mencontohi adikmu itu. Ia tidak pernah tidak melaksanakan tugasnya walaupun ia kelelahan”
“Maaf mami..”
“Mami, aku dapat kertas di bawah tempat tidur di kamar depan” ucapkku sambil memotong pembicaraan mami dan kakak.
“Sebenarnya itu adalah kertas surat warisan perusahaan yang nantinya akan diberikan kepada salah satu dari kalian yang bisa bertanggung jawab dan melaksanakan tugasnya dengan baik dan benar. Jadi, selama ini kamu yang membersihkan rumah. Bukan kakak kamu?”
“Dari mana mami tahu?”
“Dengan kamu menemukan kertas itu maka mami tahu bahwa kamulah yang membersihkan rumah. Dan juga rumah ini memang terlihat sangat bersih. Jika kakakmu yang membersihkannya pasti tidak sebersih ini. Jadi kamulah yang berhak mewarisi perusahaan Gajah Mada”
“Tapi mami aku nggak butuh semua itu aku juga nggak mau”
“Tapi kamu harus”
“Baiklah mami”
Akhirnya , dengan aku yang selalu penurut dan rajin, berhak mewarisi perusahaan keluarga dan hidup bahagia. Sedangkan kakak menyesal dengan perbuatannya. Ternyata rajin itu dapat membuahkan hasil yang membahagiakan.
Aku tak pernah menyangka
Sebesar inikah rinduku?
Merindukan hadirmu
Saat kita bersama dulu
Awalnya sebelum hari ini
Aku mencoba melupakanmu
Berusaha menghilangkan semua
Dan ku yakin aku pasti bisa
Sempatku berpikir
Kau tidak akan pernah
Hadir lagi dihadapanku
Kau sudah benar-benar pergi
Tapi ternyata itu tak benar
Kau hadir dihadapanku
Membawa luka batin bagiku
Dan luka fisik darimu
Seminggu lebih tak bertemu
Kau sudah berubah
Kau membuatku
Semakin berharap lagi
Tapi apa yang terjadi?
Ada apa denganmu?
Kenapa kamu seperti ini?
Apa sebabnya?
Banyak pertanyaan untukmu
Tapi tak berani ku ajukan
Dan mungkin juga
Tak akan ada jawaban
Sekarang ku yakin
Aku sudah terlanjur
Dan terlanjur mencintaimu
Aku tak bisa melupakanmu
Tak apa kau pergi
Aku disini kan mencoba
Membencimu atau mencintaimu
Melupakanmu atau merindukanmu
Terima kasih atas hadirmu hari ini
Yang buat hatiku bahagia
Tak apa kau seperti ini
Aku kan tetap mencintaimu
Rabu, 16 Mei 2012
Sebesar inikah rinduku?
Merindukan hadirmu
Saat kita bersama dulu
Awalnya sebelum hari ini
Aku mencoba melupakanmu
Berusaha menghilangkan semua
Dan ku yakin aku pasti bisa
Sempatku berpikir
Kau tidak akan pernah
Hadir lagi dihadapanku
Kau sudah benar-benar pergi
Tapi ternyata itu tak benar
Kau hadir dihadapanku
Membawa luka batin bagiku
Dan luka fisik darimu
Seminggu lebih tak bertemu
Kau sudah berubah
Kau membuatku
Semakin berharap lagi
Tapi apa yang terjadi?
Ada apa denganmu?
Kenapa kamu seperti ini?
Apa sebabnya?
Banyak pertanyaan untukmu
Tapi tak berani ku ajukan
Dan mungkin juga
Tak akan ada jawaban
Sekarang ku yakin
Aku sudah terlanjur
Dan terlanjur mencintaimu
Aku tak bisa melupakanmu
Tak apa kau pergi
Aku disini kan mencoba
Membencimu atau mencintaimu
Melupakanmu atau merindukanmu
Terima kasih atas hadirmu hari ini
Yang buat hatiku bahagia
Tak apa kau seperti ini
Aku kan tetap mencintaimu
Rabu, 16 Mei 2012
Apa aku sudah gila?
Kenapa aku harus menerimanya?
Orang yang sangat ku benci
Orang yang sangat jahat
Kenapa harus dia?
Aku tahu hari ini
Aku sedang bimbang
Aku masih sakit hati
Tapi haruskah dia?
Orang yang menggantinya
Mengganti dia di hatiku
Dan mengisi kekosonganku
Walaupun aku menerimanya
Tapi aku tak bisa bersamany
Walau dia terus memaksa
Terap aku tak bisa mencintainya
Biarkanlah dia mengerti
Bagaimana perasaanku
Bagaimana hatiku
Dan bagaimana rasaku padanya
Cinta tak bisa dipaksakan
Tapi kenapa aku bodoh?
Menerima orang sepertinya
Orang yan tak kucintai
Bukankah ini semua
Kan menyakiti hatinya
Dan menyakiti perasaanku
Perasaan kita berdua
Maafkan aku
Bukan maksudku menyakitimu
Dan menerimu secara terpaksa
Sekali maafkan aku
Aku takut mengatakannya
Mengatakan yang sebenarnya
Karena aku tahu
Cintamu ini benar-benar tulus
Tapi kenapa harus dia?
Dia yang menjadi pelampiasanku
Pelampiasan yang tak seharusnya
Bodohnya aku....
Rabu, 16 Mei 2012
Kenapa aku harus menerimanya?
Orang yang sangat ku benci
Orang yang sangat jahat
Kenapa harus dia?
Aku tahu hari ini
Aku sedang bimbang
Aku masih sakit hati
Tapi haruskah dia?
Orang yang menggantinya
Mengganti dia di hatiku
Dan mengisi kekosonganku
Walaupun aku menerimanya
Tapi aku tak bisa bersamany
Walau dia terus memaksa
Terap aku tak bisa mencintainya
Biarkanlah dia mengerti
Bagaimana perasaanku
Bagaimana hatiku
Dan bagaimana rasaku padanya
Cinta tak bisa dipaksakan
Tapi kenapa aku bodoh?
Menerima orang sepertinya
Orang yan tak kucintai
Bukankah ini semua
Kan menyakiti hatinya
Dan menyakiti perasaanku
Perasaan kita berdua
Maafkan aku
Bukan maksudku menyakitimu
Dan menerimu secara terpaksa
Sekali maafkan aku
Aku takut mengatakannya
Mengatakan yang sebenarnya
Karena aku tahu
Cintamu ini benar-benar tulus
Tapi kenapa harus dia?
Dia yang menjadi pelampiasanku
Pelampiasan yang tak seharusnya
Bodohnya aku....
Rabu, 16 Mei 2012
Jauh di suatu tempat yang penuh dengan pepohonan lebat yang menjulang tinggi, tinggallah seorang gadis yang cantik dan baik hati. Namanya Bella. Ia tinggal di sebuah rumah yang sederhana di tengah hutan. Tak ada yang pernah datang di hutan tersebut karena menurut cerita masyarakat, hutan tersebut sangatlah menyeramkan. Namun baginya, hutan itu adalah satu-satunya tempat tinggal teraman yang dia punya. Bella tinggal sendirian di rumah itu. Yang menemaninya hanyalah para binatang-binatang yang tinggal di hutan.
Bella adalah sosok yang penyayang terhadap semua binatang. Karena ia baik pada mereka, mereka pun menyukainya dan sering membantunya. Kegiatan sehari-harinya hanya memetik buah, mencari makanan, membuat baju, membersihkan rumah, dan bermain dengan binatang-binatang itu. Bella tidak pernah keluar dari hutan itu. Menurutnya, keadaan di luar hutan sangatlah buruk dan menakutkan.
“Aku memang ingin keluar dari hutan ini tapi, aku takut akan keadaan sekitar. Mungkin saja di luar sana lebih berbahaya dibandingkan disini.” Pikir Bella sambil berjalan-jalan mencari buah.
Walaupun ia tidak pernah ke luar hutan tapi, ia sering melihat keadaan kota dari atas bukit di hutan tersebut. Dia tahu semua bentuk-bentuk bangunan di kota tersebut.
Sebenarnya, ia masih bingung dengan dirinya yang sebenarnya. Kenapa dia bisa tinggal di hutan ini? Dia tidak tahu siapa orang tuanya dan keluarga-keluarganya yang lain. Yang tertinggal hanyalah sebuah gelang yang berlambang bunga mawar putih. Gelang itu selalu dipakai Bella, kemana pun dan dimana pun. Ia memang sangat menyukai bunga mawar putih tapi, ia tak tahu apa arti lambang itu.
“Bukannya lambang bunga merupakan lambang-lambang kerajaan? Apa aku seorang putri?” pikir Bella setiap ia melihat gelang itu.
“Mungkin itu hanya kayalanku saja. Aku yang seperti ini mana mungkin seorang putri.”
Di tengah kebingungannya itu, Bella berjalan mengitari sebuah genangan mata air yang berada di samping rumahnya. Dia duduk sambil memeluk salah satu kelinci kesukaannya. Ia melirik ke arah salah satu sudut genangan itu. Sesuatu yang bersinar terlihatnya. Bella mendekat dan didapatinya sebuah kalung berlambangkan bunga mawar merah. Kalung itu diduganya milik seorang pria yang dilihatnya semalam. Pria itu menggunakan pakaian megah dan mewah layaknya seorang pangeran. Ia memakai kalung itu agar jika bertemu dengan orang itu di hutan ia bisa mengembalikannya.
Seperti biasa sebelum malam menjemput, Bella selalu menyempatkan waktu untuk memetik bunga mawar di belakang rumahnya. Bunga mawar yang dia petik biasanya akan dijadikan sebagai hiasan atau salah satu bahan pakaian dan sering juga ia menggunakannya sebagai parfum. Setelah itu, ia segera menyiapkan makanan untuk makan malam. Setelah selesai makan dan semua pekerjaannya juga selesai, ia segera beristirahat agar bisa bangun dengan baik esok harinya. Dalam tidurnya, ia bermimpi bertemu dengan seorang pangeran. Pangeran itu sering mendatangi rumahnya. Sewaktu-waktu jika ada kesempatan, pangeran itu mengajaknya berkeliling kota bersama menggunakan kudanya yang besar. Namun semuanya itu hanyalah mimpi. Ketika ia bangun, seperti biasa keadaannya tak berubah sedikit pun.
Setelah tidur dengan lelap, tiba waktunya untuk bangun dan melakukan aktivitas seperti biasa. Pagi ini pagi yang sangat cerah. Matahari terlihat tampak bersahabat. Kegiatan Bella pun segera dimulai. Untuk menghibur dirinya agar tidak jenuh, ia sering menyanyikan sebuah lagu yang ia tak tahu ia dengar dari mana.
Tiba-tiba dari kejauhan, terdengar suara seekor kuda yang sedang berlari menuju ke arahnya. Ternyata, ada seorang pria yang menunggangi kuda itu. Pria tersebut sama seperti yang ia pernah lihat dan yang ada mimpinya. Pria itu pun turun dari kudanya dan menghampiri Bella.
“Apa kamu tinggal di hutan ini, nona?” tanya pangeran itu.
“Yah benar. Kamu siapa? Kenapa ada di hutan ini?” jawab Bella.
“Namaku Edward. Aku sering berjalan-jalan di hutan ini. Tapi, aku baru kali ini melihatmu. Kalau boleh aku tahu, siapa namamu?” tanya Edward.
“Namaku Bella. Aku sudah lama tinggal disini.”
“Apa kamu tinggal dengan orang tuamu?”
“Tidak. Sampai saat ini aku tidak tahu siapa keluargaku. Keluarga yang aku punya sekarang hanyalah binatang-binatang di hutan ini.”
“Oh, maafkan aku karena sudah lancang menanyakan keluargamu.”
“Tidak masalah. Eh, kebetulan aku ketemu kamu. Apa ini kalung milikmu?” tanya Bella sambil memegang kalung itu.
“Benar, kamu menemukannya dimana? Aku sudah mencarinya di seluruh hutan ini tapi tak ketemu.”
“Aku menemukannya di dekat mata air di samping rumahku. Ambillah dan jaga baik-baik kalung ini.”
“Baiklah. Terima kasih Bella. Tapi, sekarang aku harus kembali. Besok aku akan datang lagi disini. Semoga kita bisa bertemu lagi. Sampai jumpa.”
“Sampai jumpa.” Balas Bella sambil tersenyum malu.
Rupanya, Bella tidak mengetahui bahwa Edward adalah seorang pangeran dari kerajaan mawar merah. Edward adalah orang pertama yang berbicara dengan Bella di hutan tempat tinggalnya karena sebelumnya tidak ada yang memasuki hutan itu.
Di tengah perjalanan istana, Edward terus mengingat Bella. Rupanya ia tertarik dengan gadis itu. Ia sejenak berhenti dan mengingat sesuatu. Kayaknya, Edward sempat melihat sebuah cincin yang digunakan Bella tapi, ia tak sempat menanyakan asal cincin itu. “Bukannya cincin yang Bella gunakan waktu itu adalah cincin kerajaan mawar putih? Apa dia putri yang hilang itu? Tapi katanya, ia tidak mengetahui apa pun soal orang tuanya. Ah, mungkin cincin itu hanya kebetulan sama atau aku yang salah melihatnya.” Pikir Edward. Ia kemudian melanjutkan perjalanannya ke istana.
Keesokkan harinya, Edward segera bergegas untuk kembali ke hutan. Ia segera ingin bertemu Bella. Ia juga ingin menanyakan asal usul cincinnya itu. Sesampai di hutan tepatnya di rumah Bella, Edward segera mengetuk pintu rumah Bella dan memanggil namanya sambil salah satu tangannya memegang sebuah tangkai mawar putih yang baru dipetiknya. Bella pun membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk.
“Selamat pagi, putri.” Sapa Edward dengan wajah tersenyum.
“Selamat pagi, tapi kan aku bukan seorang putri?” balas Bella dengan wajah yang memerah.
“Mungkin, tapi aku menganggapmu sebagai seorang putri. Tidak apa-apakan kalau aku memanggilmu dengan sebutan putri?”
“Hahaha.... tidak apa-apa. Tak perlu seperti itu wajahmu. Aku tidak akan memarahimu.” Balas Bella sambil tertawa melihat wajah dan tingkah Edward.
“Ngomong-ngomong, cincin yang kamu pakai itu kamu dapat dari mana?”
“Ini mungkin pemberian orang tuaku karena dari aku kecil aku sudah memakai cincin ini. Tapi walaupun begitu aku tetap tidak tahu siapa orang tuaku.” Jawab Bella dengan ekspresi wajah yang murung seperti akan menangis.
Edward pun melihat hal itu dengan rasa prihatin kepada Bella. Ia juga menyesal karena telah menanyakan cincin itu dan membawa Bella menjadi sedih.
“Sudahlah Bella, nanti aku akan membantumu mencari orang tuamu. Tapi sebelumnya, aku ingin mengajakmu ke pesta ulang tahunku besok, apa kamu mau?”
“Benarkah? Terima kasih. Hmm, aku tak mungkin menolak ajakanmu.”
“Nanti aku akan menjemputmu besok jam tujuh malam. Aku harap kamu bisa menjadi tamu istimewaku.”
Bella hanya mampu tersenyum tanpa berkata-kata lagi. Setelah berbicara dan berjalan-jalan dengan Edward, barulah ia tahu bahwa Edward adalah seorang pangeran dari kerajaan mawar merah. Lambang yang ia lihat di kalung Edward waktu itu adalah lambang kerajaan miliknya. Edward pun menceritakan beberapa lambang kerajaan yang ia ketahui termasuk lambang kerajaan mawar putih yang sama dengan gambar di cincin milik Bella. Mereka pun berharap bahwa Bella adalah anak dari raja dan ratu kerajaan mawar putih. Bella sangat senang mendengar cerita Edward. Ia pun sempat mengingat satu hal. Saat ia di hutan pertama kali, ia menggunakan pakaian layaknya seorang putri dengan lambang yang sama dengan cincinnya. Ia semakin yakin bahwa dia adalah seorang putri. Namun, ia tidak mau terlalu banyak berharap karena ia takut jika nantinya ia salah dan menjadi kecewa.
Besok harinya, ia segera bersiap-siap untuk ke pesta. Ia bingung mencari pakaian yang pantas ia gunakan. Tapi, rupanya Edward sudah mengatasi masalah itu. Ia telah mengirimkan gaun pesta beserta sepatu dan perhiasannya. Bella sangat senang dan segera mencobanya. Ternyata, baju itu sangat cocok dengan tubuhnya. Ia pun menambahkan sedikit perhiasan menggunakan bunga-bunga di belakang rumahnya. Gaun yang tampak simple itu pun, seketika berubah menjadi gaun mewah yang elegan dan anggun. Sekarang ia siap ke pesta. Edward pun datang menjemputnya. Ia sangat kaget melihat penampilan Bella.
“Apa ini gaun yang aku kirim?” tanya Edward dengan wajah yang tampak terkesan.
“Yah, tapi aku sedikit mengubahnya.”
“Kamu terlihat sangat cantik. Cara berpakaianmu seperti Ratu Estella. Ratu dari kerajaan mawar putih yang sudah datang di pestaku sebelum aku kemari.”
“Benarkah? Mungkin dia ibuku.”
“Apa kamu sudah siap?”
“Yah, ayo kita pergi, aku sudah tidak sabar bertemu dengan mereka.”
Mereka pun pergi. Sampai di istana, Bella tidak langsung mencari-cari keluarganya. Tapi, ia diperkenalkan terlebih dahulu kepada orang tua Edward. Tampaknya orang tua Edward menyukai Bella karena kesopanan dan wajahnya yang cantik. Edward juga memberitahukan kepada ibunya bahwa gaun yang dipakai Bella adalah gaun buatannya sendiri. Hal itu, membuat ibunya semakin menyukai Bella. Bella ditawarkan untuk makan bersama dengan mereka. Setelah makan bersama, Edward mengajak bella untuk berdansa. Menurut ibunya, baru kali ini Edward kelihatan gembira seperti dulu lagi. Mungkin sejak bertemu dengan Bella.
Tiba-tiba ada seorang wanita yang memanggil nama Bella saat ia sedang berdansa. Wanita itu ternyata adalah Ratu Estella. Ia sekarang tahu bahwa Bella adalah anak yang ia cari selama ini. Bella pun sangat senang karena bisa bertemu ibunya lagi. Dan ini semua karena Edward.
Akhirnya, kedua orang tua mereka sepakat untuk mengadakan pernikahan di antara Bella dan Edward. Menurut mereka, Bella dan Edward merupakan pasangan yang sangat serasi. Segala persiapan pernikahan diatur dengan sedemikian rupa agar dapat menjadi pesta yang terbesar dan termegah di antara kedua kerajaan nantinya. Warna-warna yang dipilih mereka diambil dari lambang kerajaan mereka masing-masing yaitu warna merah dan warna putih, serta ditambahkan sedikit dekorasi-dekorasi yang menggunakan warna emas dan perak.
Seminggu kemudian, acara pernikahan mereka tiba. Pernikahan mereka berlangsung dengan baik dan sesuai rencana. Para tamu banyak yang terpesona melihat Bella dan Edward karena menurut mereka, pernikahan ini sangatlah menarik dan pantas dirayakan dengan mewah. Di pernikahan mereka juga hadir teman-teman kecil Bella yaitu binatang-binatang di hutan tempat tinggalnya dulu. Menurut Bella, ini merupakan pesta terbesar dan terindah dalam hidupnya yang tak bisa ia lupakan seumur hidup.
Mereka pun hidup bahagia di istana mereka sendiri. Sedangkan rumahnya dulu dijadikan sebagai tempat pelestarian hewan-hewan di hutan. Hutan itu pun sudah resmi dinyatakan sebagai hutan milik kerajaan mereka berdua. Dan sekarang sudah banyak orang yang datang melihat hutan tersebut. Hutan itu sudah tidak ditakuti lagi. Dan akhirnya, semuanya pun hidup bahagia dengan kehidupan mereka masing-masing.
Bella adalah sosok yang penyayang terhadap semua binatang. Karena ia baik pada mereka, mereka pun menyukainya dan sering membantunya. Kegiatan sehari-harinya hanya memetik buah, mencari makanan, membuat baju, membersihkan rumah, dan bermain dengan binatang-binatang itu. Bella tidak pernah keluar dari hutan itu. Menurutnya, keadaan di luar hutan sangatlah buruk dan menakutkan.
“Aku memang ingin keluar dari hutan ini tapi, aku takut akan keadaan sekitar. Mungkin saja di luar sana lebih berbahaya dibandingkan disini.” Pikir Bella sambil berjalan-jalan mencari buah.
Walaupun ia tidak pernah ke luar hutan tapi, ia sering melihat keadaan kota dari atas bukit di hutan tersebut. Dia tahu semua bentuk-bentuk bangunan di kota tersebut.
Sebenarnya, ia masih bingung dengan dirinya yang sebenarnya. Kenapa dia bisa tinggal di hutan ini? Dia tidak tahu siapa orang tuanya dan keluarga-keluarganya yang lain. Yang tertinggal hanyalah sebuah gelang yang berlambang bunga mawar putih. Gelang itu selalu dipakai Bella, kemana pun dan dimana pun. Ia memang sangat menyukai bunga mawar putih tapi, ia tak tahu apa arti lambang itu.
“Bukannya lambang bunga merupakan lambang-lambang kerajaan? Apa aku seorang putri?” pikir Bella setiap ia melihat gelang itu.
“Mungkin itu hanya kayalanku saja. Aku yang seperti ini mana mungkin seorang putri.”
Di tengah kebingungannya itu, Bella berjalan mengitari sebuah genangan mata air yang berada di samping rumahnya. Dia duduk sambil memeluk salah satu kelinci kesukaannya. Ia melirik ke arah salah satu sudut genangan itu. Sesuatu yang bersinar terlihatnya. Bella mendekat dan didapatinya sebuah kalung berlambangkan bunga mawar merah. Kalung itu diduganya milik seorang pria yang dilihatnya semalam. Pria itu menggunakan pakaian megah dan mewah layaknya seorang pangeran. Ia memakai kalung itu agar jika bertemu dengan orang itu di hutan ia bisa mengembalikannya.
Seperti biasa sebelum malam menjemput, Bella selalu menyempatkan waktu untuk memetik bunga mawar di belakang rumahnya. Bunga mawar yang dia petik biasanya akan dijadikan sebagai hiasan atau salah satu bahan pakaian dan sering juga ia menggunakannya sebagai parfum. Setelah itu, ia segera menyiapkan makanan untuk makan malam. Setelah selesai makan dan semua pekerjaannya juga selesai, ia segera beristirahat agar bisa bangun dengan baik esok harinya. Dalam tidurnya, ia bermimpi bertemu dengan seorang pangeran. Pangeran itu sering mendatangi rumahnya. Sewaktu-waktu jika ada kesempatan, pangeran itu mengajaknya berkeliling kota bersama menggunakan kudanya yang besar. Namun semuanya itu hanyalah mimpi. Ketika ia bangun, seperti biasa keadaannya tak berubah sedikit pun.
Setelah tidur dengan lelap, tiba waktunya untuk bangun dan melakukan aktivitas seperti biasa. Pagi ini pagi yang sangat cerah. Matahari terlihat tampak bersahabat. Kegiatan Bella pun segera dimulai. Untuk menghibur dirinya agar tidak jenuh, ia sering menyanyikan sebuah lagu yang ia tak tahu ia dengar dari mana.
Tiba-tiba dari kejauhan, terdengar suara seekor kuda yang sedang berlari menuju ke arahnya. Ternyata, ada seorang pria yang menunggangi kuda itu. Pria tersebut sama seperti yang ia pernah lihat dan yang ada mimpinya. Pria itu pun turun dari kudanya dan menghampiri Bella.
“Apa kamu tinggal di hutan ini, nona?” tanya pangeran itu.
“Yah benar. Kamu siapa? Kenapa ada di hutan ini?” jawab Bella.
“Namaku Edward. Aku sering berjalan-jalan di hutan ini. Tapi, aku baru kali ini melihatmu. Kalau boleh aku tahu, siapa namamu?” tanya Edward.
“Namaku Bella. Aku sudah lama tinggal disini.”
“Apa kamu tinggal dengan orang tuamu?”
“Tidak. Sampai saat ini aku tidak tahu siapa keluargaku. Keluarga yang aku punya sekarang hanyalah binatang-binatang di hutan ini.”
“Oh, maafkan aku karena sudah lancang menanyakan keluargamu.”
“Tidak masalah. Eh, kebetulan aku ketemu kamu. Apa ini kalung milikmu?” tanya Bella sambil memegang kalung itu.
“Benar, kamu menemukannya dimana? Aku sudah mencarinya di seluruh hutan ini tapi tak ketemu.”
“Aku menemukannya di dekat mata air di samping rumahku. Ambillah dan jaga baik-baik kalung ini.”
“Baiklah. Terima kasih Bella. Tapi, sekarang aku harus kembali. Besok aku akan datang lagi disini. Semoga kita bisa bertemu lagi. Sampai jumpa.”
“Sampai jumpa.” Balas Bella sambil tersenyum malu.
Rupanya, Bella tidak mengetahui bahwa Edward adalah seorang pangeran dari kerajaan mawar merah. Edward adalah orang pertama yang berbicara dengan Bella di hutan tempat tinggalnya karena sebelumnya tidak ada yang memasuki hutan itu.
Di tengah perjalanan istana, Edward terus mengingat Bella. Rupanya ia tertarik dengan gadis itu. Ia sejenak berhenti dan mengingat sesuatu. Kayaknya, Edward sempat melihat sebuah cincin yang digunakan Bella tapi, ia tak sempat menanyakan asal cincin itu. “Bukannya cincin yang Bella gunakan waktu itu adalah cincin kerajaan mawar putih? Apa dia putri yang hilang itu? Tapi katanya, ia tidak mengetahui apa pun soal orang tuanya. Ah, mungkin cincin itu hanya kebetulan sama atau aku yang salah melihatnya.” Pikir Edward. Ia kemudian melanjutkan perjalanannya ke istana.
Keesokkan harinya, Edward segera bergegas untuk kembali ke hutan. Ia segera ingin bertemu Bella. Ia juga ingin menanyakan asal usul cincinnya itu. Sesampai di hutan tepatnya di rumah Bella, Edward segera mengetuk pintu rumah Bella dan memanggil namanya sambil salah satu tangannya memegang sebuah tangkai mawar putih yang baru dipetiknya. Bella pun membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk.
“Selamat pagi, putri.” Sapa Edward dengan wajah tersenyum.
“Selamat pagi, tapi kan aku bukan seorang putri?” balas Bella dengan wajah yang memerah.
“Mungkin, tapi aku menganggapmu sebagai seorang putri. Tidak apa-apakan kalau aku memanggilmu dengan sebutan putri?”
“Hahaha.... tidak apa-apa. Tak perlu seperti itu wajahmu. Aku tidak akan memarahimu.” Balas Bella sambil tertawa melihat wajah dan tingkah Edward.
“Ngomong-ngomong, cincin yang kamu pakai itu kamu dapat dari mana?”
“Ini mungkin pemberian orang tuaku karena dari aku kecil aku sudah memakai cincin ini. Tapi walaupun begitu aku tetap tidak tahu siapa orang tuaku.” Jawab Bella dengan ekspresi wajah yang murung seperti akan menangis.
Edward pun melihat hal itu dengan rasa prihatin kepada Bella. Ia juga menyesal karena telah menanyakan cincin itu dan membawa Bella menjadi sedih.
“Sudahlah Bella, nanti aku akan membantumu mencari orang tuamu. Tapi sebelumnya, aku ingin mengajakmu ke pesta ulang tahunku besok, apa kamu mau?”
“Benarkah? Terima kasih. Hmm, aku tak mungkin menolak ajakanmu.”
“Nanti aku akan menjemputmu besok jam tujuh malam. Aku harap kamu bisa menjadi tamu istimewaku.”
Bella hanya mampu tersenyum tanpa berkata-kata lagi. Setelah berbicara dan berjalan-jalan dengan Edward, barulah ia tahu bahwa Edward adalah seorang pangeran dari kerajaan mawar merah. Lambang yang ia lihat di kalung Edward waktu itu adalah lambang kerajaan miliknya. Edward pun menceritakan beberapa lambang kerajaan yang ia ketahui termasuk lambang kerajaan mawar putih yang sama dengan gambar di cincin milik Bella. Mereka pun berharap bahwa Bella adalah anak dari raja dan ratu kerajaan mawar putih. Bella sangat senang mendengar cerita Edward. Ia pun sempat mengingat satu hal. Saat ia di hutan pertama kali, ia menggunakan pakaian layaknya seorang putri dengan lambang yang sama dengan cincinnya. Ia semakin yakin bahwa dia adalah seorang putri. Namun, ia tidak mau terlalu banyak berharap karena ia takut jika nantinya ia salah dan menjadi kecewa.
Besok harinya, ia segera bersiap-siap untuk ke pesta. Ia bingung mencari pakaian yang pantas ia gunakan. Tapi, rupanya Edward sudah mengatasi masalah itu. Ia telah mengirimkan gaun pesta beserta sepatu dan perhiasannya. Bella sangat senang dan segera mencobanya. Ternyata, baju itu sangat cocok dengan tubuhnya. Ia pun menambahkan sedikit perhiasan menggunakan bunga-bunga di belakang rumahnya. Gaun yang tampak simple itu pun, seketika berubah menjadi gaun mewah yang elegan dan anggun. Sekarang ia siap ke pesta. Edward pun datang menjemputnya. Ia sangat kaget melihat penampilan Bella.
“Apa ini gaun yang aku kirim?” tanya Edward dengan wajah yang tampak terkesan.
“Yah, tapi aku sedikit mengubahnya.”
“Kamu terlihat sangat cantik. Cara berpakaianmu seperti Ratu Estella. Ratu dari kerajaan mawar putih yang sudah datang di pestaku sebelum aku kemari.”
“Benarkah? Mungkin dia ibuku.”
“Apa kamu sudah siap?”
“Yah, ayo kita pergi, aku sudah tidak sabar bertemu dengan mereka.”
Mereka pun pergi. Sampai di istana, Bella tidak langsung mencari-cari keluarganya. Tapi, ia diperkenalkan terlebih dahulu kepada orang tua Edward. Tampaknya orang tua Edward menyukai Bella karena kesopanan dan wajahnya yang cantik. Edward juga memberitahukan kepada ibunya bahwa gaun yang dipakai Bella adalah gaun buatannya sendiri. Hal itu, membuat ibunya semakin menyukai Bella. Bella ditawarkan untuk makan bersama dengan mereka. Setelah makan bersama, Edward mengajak bella untuk berdansa. Menurut ibunya, baru kali ini Edward kelihatan gembira seperti dulu lagi. Mungkin sejak bertemu dengan Bella.
Tiba-tiba ada seorang wanita yang memanggil nama Bella saat ia sedang berdansa. Wanita itu ternyata adalah Ratu Estella. Ia sekarang tahu bahwa Bella adalah anak yang ia cari selama ini. Bella pun sangat senang karena bisa bertemu ibunya lagi. Dan ini semua karena Edward.
Akhirnya, kedua orang tua mereka sepakat untuk mengadakan pernikahan di antara Bella dan Edward. Menurut mereka, Bella dan Edward merupakan pasangan yang sangat serasi. Segala persiapan pernikahan diatur dengan sedemikian rupa agar dapat menjadi pesta yang terbesar dan termegah di antara kedua kerajaan nantinya. Warna-warna yang dipilih mereka diambil dari lambang kerajaan mereka masing-masing yaitu warna merah dan warna putih, serta ditambahkan sedikit dekorasi-dekorasi yang menggunakan warna emas dan perak.
Seminggu kemudian, acara pernikahan mereka tiba. Pernikahan mereka berlangsung dengan baik dan sesuai rencana. Para tamu banyak yang terpesona melihat Bella dan Edward karena menurut mereka, pernikahan ini sangatlah menarik dan pantas dirayakan dengan mewah. Di pernikahan mereka juga hadir teman-teman kecil Bella yaitu binatang-binatang di hutan tempat tinggalnya dulu. Menurut Bella, ini merupakan pesta terbesar dan terindah dalam hidupnya yang tak bisa ia lupakan seumur hidup.
Mereka pun hidup bahagia di istana mereka sendiri. Sedangkan rumahnya dulu dijadikan sebagai tempat pelestarian hewan-hewan di hutan. Hutan itu pun sudah resmi dinyatakan sebagai hutan milik kerajaan mereka berdua. Dan sekarang sudah banyak orang yang datang melihat hutan tersebut. Hutan itu sudah tidak ditakuti lagi. Dan akhirnya, semuanya pun hidup bahagia dengan kehidupan mereka masing-masing.
Di suatu tempat yang jauh dan tak pernah manusia datangi, terdapat dua buah kerajaan yang bernama kerajaan Rednova dan Whitesia. Rednova adalah sebuah kerajaan yang penuh dengan makhluk-makhluk yang sering kita sebut sebagai setan atau iblis. Whitesia adalah sebuah kerajaan yang penuh dengan malaikat-malaikat. Kegiatan di kedua kerajaan ini sama dengan kegiatan yang sering kita manusia lakukan.
Di Rednova, para iblis melakukan kegiatan yang sama seperti manusia, yaitu kuliah, bekerja, dan sebagainya. Iblis-iblis disini sangat cantik dan ganteng, memakai pakaian-pakaian yang mewah dan memiliki rumah-rumah yang megah dan mewah. Warna yang ada di kerajaan mereka hanyalah merah dan hitam serta warna-warna gelap yang lain yang dijadikan warna dasar mereka.
Di Whitesia, para malaikat juga melakukan kegiatan yang sama. Malaikat-malaikat disini memiliki wajah yang biasa-biasa saja, memakai pakaian yang sederhana dan tidak model serta tinggal di rumah-rumah yang sederhana. Warna yang dominan di kerajaan ini adalah putih disertai dengan warna-warna cerah lainnya.
Iblis memiliki semua yang ada karena tugas mereka adalah menggoda manusia untuk melakukan kejahatan jadi mereka harus disertai dengan penampilan keren dan menarik serta wajah yang cantik dan ganteng. Sementara para malaikat menjunjung tinggi kejujuran, kebaikkan, dan kesederhanaan. Untuk itu, mereka hanya disertai dengan segala hal yang biasa-biasa saja dan sederhana.
Awalnya, kedua kerajaan ini memiliki hubungan yang baik-baik saja. Namun, ada sebuah kejadian yang menggemparkan. Putra dari raja kerajaan Rednova menyukai seorang wanita yang tinggal di kerajaan Whitesia. Hal ini sangat dilarang oleh petinggi-petinggi di kedua kerajaan ini karena iblis tidak diizinkan untuk menyukai malaikat. Saat itulah kedua kerajaan tersebut bermusuhan. Namun, karena rasa cinta yang sangat mendalam akhirnya putra raja itu pun diusir dan tinggal di kerajaan Whitesia serta kedudukannya dicabut. Dan raja pun mengadakan kesepakatan. Jika mereka mendapat anak perempuan, anak itu dibiarkan tetap di Whitesia. Namun, jika anak itu laki-laki, ia akan menjadi pewaris kerajaan Rednova.
Setahun kemudian, ternyata mereka memiliki anak laki-laki dan sesuai perjanjian anak itu harus diserahkan di kerajaan Rednova untuk didik menjadi ahli waris kerajaan. Nama anak itu adalah Raien.
Belasan tahun kemudian, anak itu tumbuh menjadi iblis yang jahat karena didikan dari kakeknya. Ia berteman dengan salah satu anak dari petinggi kerajaan. Namanya Farel. Raien menjadi pangeran yang kejam, karena begitulah seharusnya.
Namun, belakangan ini ia dilaporkan telah berbuat baik kepada beberapa manusia dan sesama iblis. Hal itu membuat marah raja. Raien membantah semuanya.
“Aku, tidak pernah melakukan itu. Itu semua fitnah.” Kata Raien dengan nada marah.
“Baiklah, saya percaya. Tapi, jangan ada laporan seperti itu lagi.” Jawab raja atau yang ia kenal sebagai kakeknya.
Farel hanya terdiam. Sebenarnya, ia melihat sendiri bahwa Raien sedang menolong seorang anak. Namun, ia tidak pernah berbicara yang sebenarnya karena ia tahu sejahat apa pun Raien ia memiliki hati yang baik seperti ibunya.
Berikutnya lagi, raja mendapat laporan yang sama. Tapi, Raien membantah lagi. Padahal ia tahu, semua yang mereka katakan benar adanya.
Dan keesokkan harinya, raja mendapat laporan yang ketiga kali tentang kelakuan cucunya itu. Walaupun Raien membantah, raja sudah tidak mempercayainya.
“Bagaimana, agar raja percaya lagi padaku?”
“Kamu harus turun ke bumi dan memata-matahi seorang gadis bernama Cinta. Berilah dia tiga permintaan. Kemudian menyuruhnya untuk menandatangani surat kebebasanmu. Kamu harus membujuknya dan kamu akan ditemani oleh Farel. Di bumi kamu akan mendapatkan tempat tinggal yang mewah dan megah serta kamu akan dikenal sebagai Ray dan sebagai orang yang kaya. Apa kam sanggup?”
“Ya, saya sanggup.”
Mereka pun segera berangkat menuju bumi. Namanya sekarang berganti Ray. Sesampainya di bumi ia segera melakukan tugasnya, agar tugasnya cepat selesai. Sementara Farel harus berubah menjadi seekor kucing hitam untuk bersama-sama dengan Ray, ia akan berubah jika berada dalam rumah.
Ray bersekolah di tempat Cinta agar bisa lebih dekat dengannya. Dia dikenal sebagai cowok terganteng dan terkaya disekolah.
Cinta adalah gadis biasa. Ia tinggal dengan kakak, ibu dan adiknya. Ayahnya telah pergi meninggalkan mereka sejak ia masih kecil. Di sekolah, is dibenci oleh tiga gadis yang ngetrend di sekolah. Mereka adalah Sisi, Nina, dan Aina. Ia juga membenci seorang laki-laki yang justru banyak disulai oleh gadis di sekolahnya termasuk tiga gadis ngetrend itu. Namanya adalah Doni.
Doni adalah cowok yang pendiam. Namun, ketika ia bertemu dengan Cinta mulutnya tidak pernah diam karena selalu bertengkar dengannya. Mereka berdua merupakan anggota osis. Hal ini yang membuat mereka sering ketemu.
Beberapa hari belakangan ini, Cinta selalu memikirkan Doni di setiap tidurnya. Memang biasanya Cinta juga demikian. Namun, kali ini berbeda. Ia memikirkannya bukan sebagai musuh melainkan sebagai sesuatu yang lain. Ia tidak tahu apa maksudnya. Setiap kali ia mengingatnya, ia selalu tertawa geli akan kelakuan Doni.
“Apa-apaan sih aku ini? Jangan-jangan aku.... tidak, aku tidak boleh merasakan itu. Lagian, dia tidak mungkin merasakan hal yang sama. Dia selalu membenciku.” Kata Cinta.
Cinta merasa ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Dia berharap itu bukan rasa cinta.
Belakangan ini di sekolah, Doni pun bersikap lain kepadanya. Sekarang mereka lebih banyak bicara baik-baik dibandingkan dengan saling memarahi.
Ini merupakan saat yang tepat bagi Ray untuk mendekati Cinta dan memberikannya tiga permintaan. Ia sudah tahu bahwa Cinta menyukai Doni, Cinta juga ingin berteman dengan grup ngetrend di sekolahnya itu serta ingin sekali bertemu dengan ayahnya. Walaupun demikian, itu semua tidak ada gunanya jika, permintaan itu tidak keluarga secara langsung dari mulut Cinta.
Pendekatan demi pendekatan Ray lakukan. Dan akhirnya ia berhasil dekat dengan Cinta dan mulai menjalankan rencananya.
“Cinta, aku dapat mengabulkan tiga permintaan yang kamu inginkan. Permintaan itu dapat membantuku. Apa kamu mau membantuku?” kata Ray dengan wajah memelas.
“Aku memang mau membantumu tapi, sebenarnya kamu ini siapa sehingga bisa mengabulkan permintaanku? Lagian aku juga tidak memiliki permintaan.” jawab Cinta
“Aku akan mengatakannya besok asalkan kamu dapat menjaga rahasia ini dari orang lain. Kamu berjanji?”
“Aku janji.”
Di rumah, Cinta selalu memikirkan apa yang Ray katakan. Memang sebenarnya ia ingin berteman dengan grup trend di sekolahnya itu. Agar ia bisa lebih cantik dan dapat menjadi gadis idaman Doni serta mengetahui hal-hal di balik ketenaran mereka.
“Mungkin aku memiliki satu permintaan. Baiklah akan aku katakan kepadanya besok.” Pikir Cinta.
Di sekolah, ia bingung mencari-cari Ray karena dari pagi ia tidak terlihat. Justru yang ia temui adalah Doni.
Ketika pulang sekolah, ia mendapat surat dari Ray. Ia meminta Cinta untuk bertemu dengannya sore hari di depan rumah Cinta. Ketika ia akan pulang, entah apa yang terjadi tiba-tiba dengan sengaja Sisi menyiram rok Cinta dengan air. Semua orang menertawainya. Cinta tampak sangat malu sampai ia tidak bisa bergerak. Wajahnya memerah. Lalu datanglah Doni dengan wajah yang terlihat marah pada siapa pun yang menertawai Cinta. Doni segera melepaskan baju seragamnya lalu menutupi rok Cinta dengan bajunya itu. Ia memeluk Cinta dan membawanya pulang. Beberapa siswa yang melihat hal itu terheran-heran sekaligus terkesan dengan sikap Doni. Mereka pun berkata,
“Wow! Lihat tuh! Nekad banget yah, dia!”
“Doni memang keren. Ini baru cowok sejati.”
“Beruntung banget orang yang mendapatkan perhatiannya.”
“Kayanya ia menyukai Cinta deh!”
“Coba saja aku mendapatkan cowok yang seperti Doni.”
Semua perkataan dari mereka membuat Cinta menjadi malu sekaligus senang. Ia terus menundukkan kepalanya. Sementara Sisi yang melihat hal itu menjadi marah karena rencana untuk mempermalukan Cinta gagal.
Sore harinya, Ray bertemu dengan Cinta. Ia mengajak Cinta untuk berbicara di rumahnya. Cinta terkaget-kaget sekaligus heran karena melihat seluruh isi rumah Ray berwarna merah dan hitam. Tidak ada warna lain. Ray pun menceritakan semuanya.
“Aku sebenarnya bukan berasal dari sini dan juga bukan manusia.”
“Apa maksudmu bukan manusia?” tanya Cinta sambil menggaruk kepalanya.
“Aku adalah pangeran iblis. Aku dihukum karena ketahuan menolong seseorang.”
“Apa? Tapi mengapa kamu dihukum kalau menolong seseorang? Terus siapa orang tuamu?”
“Karena kami dilarang untuk berbuat baik kepada orang lain. Ayahku adalah putra raja iblis namun, telah diusir dari kerajaan kami karena menyukai malaikat di kerajaan seberang. Ibuku adalah malaikat.”
“Membingungkan. Mungkin kamu berbuat baik karena bawaan dari ibumu.”
“Mungkin juga seperti itu. Tapi, aku tetap harus kembali ke kerajaanku agar aku tidak diusir. Jadi apa permintaanmu?”
“Aku memang punya satu permintaan tapi aku tidak percaya denganmu.”
“Kamu harus percaya dengan Ray.” Balas Farel
“Siapa itu?” tanya Cinta dengan penuh ketakutan.
“Ini aku kucing kesayangan Ray. Tapi sebenarnya aku bukan kucing tapi teman Ray dari kerajaannya.”
“Sekarang kamu percaya kan?” tanya Ray.
“Yah, a..a..aku percaya.” Jawab Cinta dengan nada ketakutan. “Permintaanku adalah aku ingin agar grup trend di sekolahku mau berteman denganku dan mau berbagi rahasia denganku.”
“Baiklah permintaanmu telah dikabulkan. Lihat saja kelakuan mereka terhadapmu besok. Tapi ingat karena kamu telah memulai satu permintaan jadi batas meminta permintaanmu dan batas berlakunya hanya tiga puluh hari dari besok. Jadi, siapkanlah dua permintaan lagi.”
“Baiklah.”
Cinta sangat senang. Ia pun segera pulang dan tidur. Dia sudah tidak sabar untuk melihat kelakuan grup trend itu besok.
Besok harinya ia segera berangkat ke sekolah. Benar saja, mereka langsung menyambutnya dengan bahagia.
Setelah beberapa hari ia bersenang-senang ia kemudian terpikir untuk meminta satu permintaan lagi. Ia pergi menemui Ray untuk meminta permintaan. Ray pun menyambutnya dengan bahagia.
“Apa permintaanmu?”
“Aku ingin bertemu ayah.”
“Baiklah, ayahmu akan datang sebentar lagi.”
Sampainya di rumah ia mendengar suara lelaki yang pastinya ia tahu itu bukan suara kakaknya. Ternyata, itu adalah suara ayahnya. Ia sangat senang walaupun sebenarnya ia tahu ini hanyalah sementara.
Waktu tersisa dua hari untuk menikmati semua ini. Namun, masih ada satu permintaan lagi. Ia ingin agar Doni menjadi pacarnya walau hanya sehari saja. Dia segera menemui Ray.
“Aku sudah tahu permintaanmu.” Besok ia akan menembakmu dan akan jadi pacarmu walau hanya sehari.”
Benar saja. Besoknya Doni langsung menembak Cinta. Cinta pun terkaget dan sangat senang. Tapi, ia berpikir bahwa ini semua hanyalah impian sesaat yang akan hilang sebentar lagi. Tapi ternyata, Cinta tak tahu bahwa Doni benar-benar mencintainya dan bukan karena sihir dari Ray. Ray mengetahui hal itu dan terlihat untuk pasrah. Dia telah siap bila sewaktu-waktu ia akan diusir dari kerajaan Rednova.
“Ada permintaan lagi?” tanya Ray.
“Aku harus minta apa lagi? Hanya ini yang aku inginkan. Tidak ada lain lagi.” Jawab Cinta.
“Tapi....... sudahlah. Kamu juga tak perlu menandatangani surat perjanjian kita.” Balas Ray dengan wajah murung.
“Kenapa?” tanya Cinta bingung
“Kamu akan tahu nanti.”
Hari yang terakhir. Hari yang terakhir bagi Cinta untuk merasakan semua ini. Ibunya tidak mengingat apa pun bahwa ayah Cinta pernah menginap di rumah. Di sekolah, grup yang trend itu sama sekali tidak mengingat apa pun yang mereka telah lakukan padanya. Teman-teman lain pun tampak heran.
“Berakhirlah sudah semua. Mungkin Doni tidak akan menyapaku.” Pikir Cinta.
Namun apa jadi, Doni memanggilnya dan pergi bersama-sama. Akhirnya dia baru sadar kalau Doni benar-benar mencintainya.
Cinta pun sadar bahwa yang dimaksud Ray adalah hal ini. Ternyata Ray masih membutuhkan satu permintaan lagi agar ia terbebas. Semua yang telah terjadi ini membuat perjanjiannya dengan raja batal. Mengetahui hal ini, Cinta pun segera pergi menemui Ray.
“Maafkan aku Ray. Aku tak tahu soal ini.” Kata Cinta dengan wajah sedih yang sangat jelas terlihat.
Tak perlu minta maaf. Ini bukan salahmu. Aku memang tak pantas berada di kerajaan Rednova. Jadi, kamu jangan sedih. Aku akan sering-sering datang mengunjungimu kalau bisa.” Balas Ray dengan alasan untuk membujuk Cinta agar tidak sedih. “Sampai jumpa, Cin”
Raien pun kembali. Karena kegagalannya, ia di pulangkan ke orang tuanya di Whitesia. Ternyata benar, sejahat-jahat apa pun ia, jauh dalam hatinya memiliki hati malaikat.
Di perbatasan kerajaan Farel dan Raien saling bertemu dan berbicara secara diam-diam.
“Hai Farel, tumben berkunjung?”
“Hai Rai, aku hanya ingin membawakan barang yang diberikan anak yang kamu tolong waktu itu. Bagaimana kabarmu? Ceweknya cantik-cantik?”
“Oh, makasih. Baik-baik aja. Ternyata cewek-cewek disini nggak jauh beda cantiknya dari cewek disana.” Jawabnya sambil tertawa. “Semoga kamu baik-baik di Rednova dan jangan lupakan aku. Sering-seringlah bertemu disini. Bye.”
“Hahaha... kamu juga. Nanti aku akan datang kesini setiap senin dan kamis. Sampai jumpa.”
Sahabat adalah teman yang dekat dan selalu ada dengan kita. Sahabat akan selalu ada disaat sedih maupun bahagia. Dia akan ada untuk menghibur serta menemani hati yang kesepian. Apapun yang terjadi dia tetap akan selalu bersama dengan kita. Namun pantaskah ini disebut persahabatan jika hanya akan jadi hancur oleh satu orang saja? Pantaskah disebut sebagai sahabat jika hanya memikirkan perasaan cintanya sendiri?
Suatu hari, ada dua gadis yang telah menjalani persahabatan mereka selama 2 tahun. Mereka adalah Mita dan Vera. Persahabatan mereka bermula dan semakin erat karena mereka bersekolah di tempat yang sama. Mita adalah seorang yang kaya, pemalas dan selalu dimanjakan, hidupnya selalu senang karena semua yang dia inginkan pasti akan selalu dikabulkan orang tuanya. Vera adalah seorang yang rajin, baik hati, sederhana, dan mandiri. Ia tinggal di tengah-tengah keluarga yang memiliki kemandirian yang kuat. Ia sudah dilatih dari kecil untuk bersikap mandiri dan hidup apa adanya, sehingga ia tidak banyak menuntut apapun dari orang tuanya.
Walaupun latar belakang mereka berbeda, namun mereka sangat berteman baik dan saling membantu. Apalagi sekarang mereka sudah sekelas. Jadi, kebersamaan mereka di sekolah pun semakin dekat. Jika ada tugas kelompok, mereka selalu bekerja sama dengan baik. Mita bertugas untuk membeli semua bahan-bahan yang dibutuhkan dan Vera bertugas untuk menyusun pembuatannya.
Hidup mereka sangat memberikan contoh bagi teman-temannya bahwa tak perduli seperti apa latar belakang keluargamu tetapi jika dilandasi pertemanan yang tulus pasti mampu menjadi sahabat yang baik.
Dua minggu kemudian, sekolah mereka kedatangan murid baru. Murid baru itu bernama Revo. Ia adalah siswa yang baik, berpenampilan menarik, pintar, dan berasal dari keluarga yang mencukupi. Ia dimasukkan ke kelas Mita dan Vera. Tak disangka-sangka, ternyata Revo merupakan teman lama Vera sewaktu kecil. Vera tampak senang. Namun inilah awal persahabatan Mita dan Vera pecah.
“Hai Vera. Lama kita tidak bertemu.” Sapa Revo.
“Eh, hai Rev. Ia yah!” Jawab Vera sambil melihat Revo dengan wajah memerah.
“Gimana kabarmu,Ver?”
“Baik-baik aja. Kamu?”
“Sama dong!”
Vera dan Revo terus melanjutkan percakapan mereka. Sementara Mita yang melihat keadaan itu tampaknya mulai marah.
“Huh! Harusnya kan aku yang disapanya duluan bukan Vera.” Kata Mita dalam hati. “Pasti ini ada apa-apanya. Pokoknya aku harus mendapatkannya duluan dibanding Vera”
Rupanya Mita menyukai Revo sejak pertama kali ia melihatnya. Sejak kejadian itu, Mita sudah jarang sekali tampak bersama-sama dengan Vera. Vera tampak bingung dengan sikap Mita yang seakan-akan mencoba untuk menjauh darinya. Vera mencoba bertanya kepada teman-teman sekelasnya yang ternyata juga merasakan hal yang aneh dari Mita, sama seperti yang Vera rasakan.
“Rin, kamu tahu nggak kenapa Mita belakangan ini tampak seperti ingin menjauhiku dan juga tampak cuek?” tanya Vera kepada salah satu teman sekelasnya.
“Nggak tuh! Tapi kayanya dia belakangan ini ingin banget mencuri perhatiannya murid baru itu.” Jawab Rini.
“Maksudmu Revo? Tapi untuk apa?”
“Ia dia. Kalo itu sih aku juga nggak tahu,Ver. Tanya aja langsung.”
“Akan aku coba. Makasih, yah!”
Vera masih mencoba mencari tahu apa alasanya. Dan, akhirnya ia tahu bahwa Mita ternyata menyukai teman lamanya itu. Tapi Vera terus berpikir. Dengan hal itu kenapa Mita harus menjauhinya? Apa yang salah dengannya sekarang?
Sudah berminggu-minggu Vera dan Mita sudah tidak saling menegur, bahkan untuk saling melirik saja kayanya Mita sudah tidak sudi. Vera sudah terlanjur sakit hati terhadap perlakuan Mita kepadanya. Semua permintaan maaf yang dikirim Vera tidak ditanggapi Mita. Hingga suatu saat Mita mengirimkan pesan pada Vera. Pesan itu hanya berisi dua kata saja. “Jauhi aku.”
Vera sudah tidak pusing lagi dengan semua tingkah laku Mita. “Apa mungkin hanya dengan hal sepeleh sampai persahabatan mereka harus berakhir seperti ini? Tapi jika suatu hari nanti Mita mau berteman denganku pasti akan kuterima dia lagi sebagai sahabat.” Itulah yang ada dibenaknya.
Namun kejauhan Mita dengan Vera membuat Revo semakin dekat dengan Vera. Mereka selalu kelihatan bersama dalam setiap waktu. Bahkan, Revo pun mau setempat duduk dengan Vera di kelas. Bagi Vera hanya Revo satu-satunya orang yang mampu membuatnya tertawa lagi dan mengisi kekosongannya sekarang ini.
Diam-diam, Revo menaruh hati kepada Vera. Perasaan Revo kepada Vera sudah lama dipendamnya dalam hati. Dulu sejak berpisah dengan Vera dan pergi keluarga kota, Revo telah berjanji dalam hatinya untuk mencari Vera dan ingin selalu bersama-sama dengannya dan tak ada satu pun yang bisa mengubah hal itu.
Revo sengaja, terus mengantar dan menjemput Vera ke sekolah agar ia bisa punya banyak waktu untuk bersama dengan Vera. Hampir setiap sabtu, ia mengajak Vera keluar untuk makan dan jalan-jalan. Hal ini tidalah sulit dilakukannya karena ia sudah sangat mengenal dan sudah sangat akrab dengan keluarga Vera.
Sampai suatu saat Mita melihat Vera pergi bersama dengan Revo. Ia mengikuti mereka sampai di sebuah restoran. Ia terus menatap gerak-gerik mereka dan mencoba untuk duduk lebih dekat agar ia bisa mendengar semua percakapan mereka. Revo dan Vera tidak menyadari hal itu sehingga mereka terus bercakap-cakap dan membahas suatu cerita kesukaan Vera.
“Ternyata kamu masih ingat cerita kesukaanku dulu.” Bahas Vera.
“Yaph, aku kan selalu membacakannya dulu saat kita selesai bermain.”
“Hmmm, ia juga yah! Maaf Rev karena itu sudah lama jadi aku agak sedikit lupa.”
“Nggak masalah. Tapi kalo yang ini kamu pasti ingat!”
“Yang mana?” tanya Vera dengan wajah yang penasaran.
“Saat aku bacakan cerita itu, kamu pasti langsung tertidur dibahuku.”
“Hahahaha. Udah dong, aku jadi malu nih!” Vera tertawa geli dengan wajah yang memerah seperti udang yang mereka santap.
Kebersamaan mereka membuat hati Mita seakan-akan terbakar. Mita sangat cemburu dengan Vera. Minuman dingin yang dipegangnya seolah-olah menjadi panas seketika, seiring dengan panas hatinya.
“Ver, sebenarnya aku mengajak kamu kesini bukan hanya ingin sekedar makan dan bercanda denganmu. Ada hal lain juga yang menurut aku penting dan sudah lama aku pendam” tanya Revo dengan memasang wajah yang tampak serius. Yang membuat Vera menjadi sangat penasaran.
Mita yang mendengar perkataan Revo pun tahu bahwa saat ia ingin manyatakan perasaannya kepada Vera. Takut perasaan itu akan terungkap, Mita pun mencari akal agar ia bisa menggagalkannya. Mita lalu mencoba berjalan di samping mereka dan berpura-pura menumpahkan minuman ke baju Revo.
“Apa-apaan sih kamu Mita?” tanya Revo sambil mengeringkan bajunya.
“Maaf...maaf aku nggak sengaja,Rev.” Jawab Mita sambil sedikit tersenyum atas keberhasilannya.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Vera.
“Hah! So manis. Biasa aja kali,Ver.” Balas Mita dengan nada sinis.
Mendengar perkataan Mita, Revo menjadi sangat marah dan memarahi Mita serta mengajak Vera pulang.
“Mita, kamu itu apa sih? Orang apa bukan? Yang salah kamu, kenapa jadi Vera yang dimarahin. Kamu itu bukan siapa-siapa aku dan juga bukan siapa-siapanya Vera lagi. Jadi, nggak usah ikut campur apa-apa. Dasar cewek sial.” Kata Revo sambil seakan-akan ingin memukul Mita. “Ayo, pulang. Nggak usah perdulikan cewek ini. Dia sudah bukan sahabatmu. Lagian sahabat macam apa yang seperti ini.”
Mita hanya mampu terdiam. Matanya berkaca-kaca dan wajahnya memerah. Ia lalu pergi. Sesampainya di rumah, Mita menangis dan berkata, “Kenapa dia bicara seperti itu? Kenapa dia lebih memilih cewek itu dibanding aku? Apa sih kurangnya aku? Aku masih lebih baik dan lebih menarik dibandingkan dengannya.”
Sementara itu Vera dan Revo sudah dalam perjalanan ke rumah Vera. Vera tampak sedih dengan apa yang dikatakan Mita. Ia masih mengingat semua kata-katanya tadi. Tiba-tiba air matanya tak dapat ditahan. Ia menangis dan terus menangis. Revo tak tega melihatnya. Ia memeluk erat Vera dan mencoba menghiburnya, “Sudahlah, perkataannya tak usah disimpan dalam hati. Anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa.”
Vera mencoba menghapus air matanya. Dan mencoba untuk tersenyum kepada Revo.
“Rev, bukannya tadi kamu ingin mengatakan sesuatu? Katakan saja sekarang.”
Sejenak Revo berpikir dan berkata, “Mungkin besok saja. Nah, sudah sampai rumah.Sebaiknya, sekarang kamu masuk dan tidur karena besok kita ada ujian?”
“Oh yah, aku lupa. Aku masuk dulu yah, bye! Hati-hati di jalan”
“Bye. Aku jemput kamu pagi-pagi yah.”
“Oke!”
Keesokan harinya, saat bel istirahat berbunyi, Revo mengajak Vera ke kantin. Rupanya saat inilah ia akan mengungkapkan seluruh isi hatinya kepada Vera.
“Ver, aku ingin lanjutkan perkataanku kemarin.”
“Kamu mau bilang apa?”
“Sebenarnya aku sudah lama menyukaimu. Sejak kita bersama-sama dulu, sampai sekarang perasaanku tidak pernah berubah.”
“Maksudnya?”
“Aku itu suka sama kamu.”
“Sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Tapi kita berteman dulu yah! Tapi kamu pasti tahukan jawabanku.”
“Yes...yes...yes. Makasih,Ver, makasih banyak.” Revo tampak senang dan melompat-lompat kegirangan.
Mereka pun saling tertawa karena kejadian itu. Tiba-tiba Mita datang dengan wajah yang seakan-akan ingin marah besar kepada mereka berdua. Terjadilah adu mulut di kantin itu.
“Jadi ini yang buat kamu dekat dengan Revo? Supaya Revo juga suka sama kamu dan supaya dia tidak akan direbut cewek lain terutama aku, iya?” Tanya Mita dengan nada tinggi.
“Kenapa kamu marah-marah? Seharusnya aku yang tanya, hanya karena rasa cintamu itu kamu lebih memilih untuk memutuskan hubungan persahabatan kita yang sudah lama tanpa ada alasan yang jelas?” Balas Vera.
“Semua itu karena kamu. Karena kamu lebih dekat dengannya dibanding aku. Seharusnya kalau kamu mau bersaing, bersainglah dengan sehat tidak seperti ini”
“Asal kamu tahu Mita, Revo ini adalah temanku sejak kecil. Jauh sebelum mengenalmu, aku sudah mengenalnya dengan baik. Jadi, kamu nggak ada hak apa pun untuk menyuruh aku agar tidak dekat dengannya.”
“Tapi kan kamu.......” Balas Mita yang kemudian dipotong oleh Revo.
“Sudah cukup Mita, sudah cukup semuanya. Kamu selalu menyalahkan Vera tanpa menanyakan apa pun padaku. Tentang perasaanku atau semacamnya.”
“Memangnya kamu tidak menyukaiku?” tanya Mita.
“Tidak sama sekali. Karena dari dulu sampai sekarang hatiku hanya untuknya. Hanya untuk Vera seorang. Aku telah berjanji soal itu pada diriku sendiri. Sebaiknya kamu pergi saja karena sudah tidak ada alasan lain untukmu.”
“Kalian semua tidak berperasaan.” Mita pun pergi sambil memasang wajah yang tak tentu.
Bagi Vera inilah akhir persahabatan mereka yang kandas dan hancur hanya karena masalah cinta. Sahabat yang baik sebenarnya, bisa saling terbuka dan bicara dengan jujur agar tidak ada kesalahpahaman. Namun Vera sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia akan belajar untuk menjadi sahabat yang benar-benar sempurna dan membuka hatinya untuk siapa pun yang mau menjadi sahabatnya kelak. Agar semuanya tak terulang kembali seperti saat ini.
Suatu hari, ada dua gadis yang telah menjalani persahabatan mereka selama 2 tahun. Mereka adalah Mita dan Vera. Persahabatan mereka bermula dan semakin erat karena mereka bersekolah di tempat yang sama. Mita adalah seorang yang kaya, pemalas dan selalu dimanjakan, hidupnya selalu senang karena semua yang dia inginkan pasti akan selalu dikabulkan orang tuanya. Vera adalah seorang yang rajin, baik hati, sederhana, dan mandiri. Ia tinggal di tengah-tengah keluarga yang memiliki kemandirian yang kuat. Ia sudah dilatih dari kecil untuk bersikap mandiri dan hidup apa adanya, sehingga ia tidak banyak menuntut apapun dari orang tuanya.
Walaupun latar belakang mereka berbeda, namun mereka sangat berteman baik dan saling membantu. Apalagi sekarang mereka sudah sekelas. Jadi, kebersamaan mereka di sekolah pun semakin dekat. Jika ada tugas kelompok, mereka selalu bekerja sama dengan baik. Mita bertugas untuk membeli semua bahan-bahan yang dibutuhkan dan Vera bertugas untuk menyusun pembuatannya.
Hidup mereka sangat memberikan contoh bagi teman-temannya bahwa tak perduli seperti apa latar belakang keluargamu tetapi jika dilandasi pertemanan yang tulus pasti mampu menjadi sahabat yang baik.
Dua minggu kemudian, sekolah mereka kedatangan murid baru. Murid baru itu bernama Revo. Ia adalah siswa yang baik, berpenampilan menarik, pintar, dan berasal dari keluarga yang mencukupi. Ia dimasukkan ke kelas Mita dan Vera. Tak disangka-sangka, ternyata Revo merupakan teman lama Vera sewaktu kecil. Vera tampak senang. Namun inilah awal persahabatan Mita dan Vera pecah.
“Hai Vera. Lama kita tidak bertemu.” Sapa Revo.
“Eh, hai Rev. Ia yah!” Jawab Vera sambil melihat Revo dengan wajah memerah.
“Gimana kabarmu,Ver?”
“Baik-baik aja. Kamu?”
“Sama dong!”
Vera dan Revo terus melanjutkan percakapan mereka. Sementara Mita yang melihat keadaan itu tampaknya mulai marah.
“Huh! Harusnya kan aku yang disapanya duluan bukan Vera.” Kata Mita dalam hati. “Pasti ini ada apa-apanya. Pokoknya aku harus mendapatkannya duluan dibanding Vera”
Rupanya Mita menyukai Revo sejak pertama kali ia melihatnya. Sejak kejadian itu, Mita sudah jarang sekali tampak bersama-sama dengan Vera. Vera tampak bingung dengan sikap Mita yang seakan-akan mencoba untuk menjauh darinya. Vera mencoba bertanya kepada teman-teman sekelasnya yang ternyata juga merasakan hal yang aneh dari Mita, sama seperti yang Vera rasakan.
“Rin, kamu tahu nggak kenapa Mita belakangan ini tampak seperti ingin menjauhiku dan juga tampak cuek?” tanya Vera kepada salah satu teman sekelasnya.
“Nggak tuh! Tapi kayanya dia belakangan ini ingin banget mencuri perhatiannya murid baru itu.” Jawab Rini.
“Maksudmu Revo? Tapi untuk apa?”
“Ia dia. Kalo itu sih aku juga nggak tahu,Ver. Tanya aja langsung.”
“Akan aku coba. Makasih, yah!”
Vera masih mencoba mencari tahu apa alasanya. Dan, akhirnya ia tahu bahwa Mita ternyata menyukai teman lamanya itu. Tapi Vera terus berpikir. Dengan hal itu kenapa Mita harus menjauhinya? Apa yang salah dengannya sekarang?
Sudah berminggu-minggu Vera dan Mita sudah tidak saling menegur, bahkan untuk saling melirik saja kayanya Mita sudah tidak sudi. Vera sudah terlanjur sakit hati terhadap perlakuan Mita kepadanya. Semua permintaan maaf yang dikirim Vera tidak ditanggapi Mita. Hingga suatu saat Mita mengirimkan pesan pada Vera. Pesan itu hanya berisi dua kata saja. “Jauhi aku.”
Vera sudah tidak pusing lagi dengan semua tingkah laku Mita. “Apa mungkin hanya dengan hal sepeleh sampai persahabatan mereka harus berakhir seperti ini? Tapi jika suatu hari nanti Mita mau berteman denganku pasti akan kuterima dia lagi sebagai sahabat.” Itulah yang ada dibenaknya.
Namun kejauhan Mita dengan Vera membuat Revo semakin dekat dengan Vera. Mereka selalu kelihatan bersama dalam setiap waktu. Bahkan, Revo pun mau setempat duduk dengan Vera di kelas. Bagi Vera hanya Revo satu-satunya orang yang mampu membuatnya tertawa lagi dan mengisi kekosongannya sekarang ini.
Diam-diam, Revo menaruh hati kepada Vera. Perasaan Revo kepada Vera sudah lama dipendamnya dalam hati. Dulu sejak berpisah dengan Vera dan pergi keluarga kota, Revo telah berjanji dalam hatinya untuk mencari Vera dan ingin selalu bersama-sama dengannya dan tak ada satu pun yang bisa mengubah hal itu.
Revo sengaja, terus mengantar dan menjemput Vera ke sekolah agar ia bisa punya banyak waktu untuk bersama dengan Vera. Hampir setiap sabtu, ia mengajak Vera keluar untuk makan dan jalan-jalan. Hal ini tidalah sulit dilakukannya karena ia sudah sangat mengenal dan sudah sangat akrab dengan keluarga Vera.
Sampai suatu saat Mita melihat Vera pergi bersama dengan Revo. Ia mengikuti mereka sampai di sebuah restoran. Ia terus menatap gerak-gerik mereka dan mencoba untuk duduk lebih dekat agar ia bisa mendengar semua percakapan mereka. Revo dan Vera tidak menyadari hal itu sehingga mereka terus bercakap-cakap dan membahas suatu cerita kesukaan Vera.
“Ternyata kamu masih ingat cerita kesukaanku dulu.” Bahas Vera.
“Yaph, aku kan selalu membacakannya dulu saat kita selesai bermain.”
“Hmmm, ia juga yah! Maaf Rev karena itu sudah lama jadi aku agak sedikit lupa.”
“Nggak masalah. Tapi kalo yang ini kamu pasti ingat!”
“Yang mana?” tanya Vera dengan wajah yang penasaran.
“Saat aku bacakan cerita itu, kamu pasti langsung tertidur dibahuku.”
“Hahahaha. Udah dong, aku jadi malu nih!” Vera tertawa geli dengan wajah yang memerah seperti udang yang mereka santap.
Kebersamaan mereka membuat hati Mita seakan-akan terbakar. Mita sangat cemburu dengan Vera. Minuman dingin yang dipegangnya seolah-olah menjadi panas seketika, seiring dengan panas hatinya.
“Ver, sebenarnya aku mengajak kamu kesini bukan hanya ingin sekedar makan dan bercanda denganmu. Ada hal lain juga yang menurut aku penting dan sudah lama aku pendam” tanya Revo dengan memasang wajah yang tampak serius. Yang membuat Vera menjadi sangat penasaran.
Mita yang mendengar perkataan Revo pun tahu bahwa saat ia ingin manyatakan perasaannya kepada Vera. Takut perasaan itu akan terungkap, Mita pun mencari akal agar ia bisa menggagalkannya. Mita lalu mencoba berjalan di samping mereka dan berpura-pura menumpahkan minuman ke baju Revo.
“Apa-apaan sih kamu Mita?” tanya Revo sambil mengeringkan bajunya.
“Maaf...maaf aku nggak sengaja,Rev.” Jawab Mita sambil sedikit tersenyum atas keberhasilannya.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Vera.
“Hah! So manis. Biasa aja kali,Ver.” Balas Mita dengan nada sinis.
Mendengar perkataan Mita, Revo menjadi sangat marah dan memarahi Mita serta mengajak Vera pulang.
“Mita, kamu itu apa sih? Orang apa bukan? Yang salah kamu, kenapa jadi Vera yang dimarahin. Kamu itu bukan siapa-siapa aku dan juga bukan siapa-siapanya Vera lagi. Jadi, nggak usah ikut campur apa-apa. Dasar cewek sial.” Kata Revo sambil seakan-akan ingin memukul Mita. “Ayo, pulang. Nggak usah perdulikan cewek ini. Dia sudah bukan sahabatmu. Lagian sahabat macam apa yang seperti ini.”
Mita hanya mampu terdiam. Matanya berkaca-kaca dan wajahnya memerah. Ia lalu pergi. Sesampainya di rumah, Mita menangis dan berkata, “Kenapa dia bicara seperti itu? Kenapa dia lebih memilih cewek itu dibanding aku? Apa sih kurangnya aku? Aku masih lebih baik dan lebih menarik dibandingkan dengannya.”
Sementara itu Vera dan Revo sudah dalam perjalanan ke rumah Vera. Vera tampak sedih dengan apa yang dikatakan Mita. Ia masih mengingat semua kata-katanya tadi. Tiba-tiba air matanya tak dapat ditahan. Ia menangis dan terus menangis. Revo tak tega melihatnya. Ia memeluk erat Vera dan mencoba menghiburnya, “Sudahlah, perkataannya tak usah disimpan dalam hati. Anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa.”
Vera mencoba menghapus air matanya. Dan mencoba untuk tersenyum kepada Revo.
“Rev, bukannya tadi kamu ingin mengatakan sesuatu? Katakan saja sekarang.”
Sejenak Revo berpikir dan berkata, “Mungkin besok saja. Nah, sudah sampai rumah.Sebaiknya, sekarang kamu masuk dan tidur karena besok kita ada ujian?”
“Oh yah, aku lupa. Aku masuk dulu yah, bye! Hati-hati di jalan”
“Bye. Aku jemput kamu pagi-pagi yah.”
“Oke!”
Keesokan harinya, saat bel istirahat berbunyi, Revo mengajak Vera ke kantin. Rupanya saat inilah ia akan mengungkapkan seluruh isi hatinya kepada Vera.
“Ver, aku ingin lanjutkan perkataanku kemarin.”
“Kamu mau bilang apa?”
“Sebenarnya aku sudah lama menyukaimu. Sejak kita bersama-sama dulu, sampai sekarang perasaanku tidak pernah berubah.”
“Maksudnya?”
“Aku itu suka sama kamu.”
“Sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Tapi kita berteman dulu yah! Tapi kamu pasti tahukan jawabanku.”
“Yes...yes...yes. Makasih,Ver, makasih banyak.” Revo tampak senang dan melompat-lompat kegirangan.
Mereka pun saling tertawa karena kejadian itu. Tiba-tiba Mita datang dengan wajah yang seakan-akan ingin marah besar kepada mereka berdua. Terjadilah adu mulut di kantin itu.
“Jadi ini yang buat kamu dekat dengan Revo? Supaya Revo juga suka sama kamu dan supaya dia tidak akan direbut cewek lain terutama aku, iya?” Tanya Mita dengan nada tinggi.
“Kenapa kamu marah-marah? Seharusnya aku yang tanya, hanya karena rasa cintamu itu kamu lebih memilih untuk memutuskan hubungan persahabatan kita yang sudah lama tanpa ada alasan yang jelas?” Balas Vera.
“Semua itu karena kamu. Karena kamu lebih dekat dengannya dibanding aku. Seharusnya kalau kamu mau bersaing, bersainglah dengan sehat tidak seperti ini”
“Asal kamu tahu Mita, Revo ini adalah temanku sejak kecil. Jauh sebelum mengenalmu, aku sudah mengenalnya dengan baik. Jadi, kamu nggak ada hak apa pun untuk menyuruh aku agar tidak dekat dengannya.”
“Tapi kan kamu.......” Balas Mita yang kemudian dipotong oleh Revo.
“Sudah cukup Mita, sudah cukup semuanya. Kamu selalu menyalahkan Vera tanpa menanyakan apa pun padaku. Tentang perasaanku atau semacamnya.”
“Memangnya kamu tidak menyukaiku?” tanya Mita.
“Tidak sama sekali. Karena dari dulu sampai sekarang hatiku hanya untuknya. Hanya untuk Vera seorang. Aku telah berjanji soal itu pada diriku sendiri. Sebaiknya kamu pergi saja karena sudah tidak ada alasan lain untukmu.”
“Kalian semua tidak berperasaan.” Mita pun pergi sambil memasang wajah yang tak tentu.
Bagi Vera inilah akhir persahabatan mereka yang kandas dan hancur hanya karena masalah cinta. Sahabat yang baik sebenarnya, bisa saling terbuka dan bicara dengan jujur agar tidak ada kesalahpahaman. Namun Vera sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia akan belajar untuk menjadi sahabat yang benar-benar sempurna dan membuka hatinya untuk siapa pun yang mau menjadi sahabatnya kelak. Agar semuanya tak terulang kembali seperti saat ini.
Langganan:
Postingan (Atom)





- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact