Selasa, 15 Mei 2012

Putri Mawar Putih

Jauh di suatu tempat yang penuh dengan pepohonan lebat yang menjulang tinggi, tinggallah seorang gadis yang cantik dan baik hati. Namanya Bella. Ia tinggal di sebuah rumah yang sederhana di tengah hutan. Tak ada yang pernah datang di hutan tersebut karena menurut cerita masyarakat, hutan tersebut sangatlah menyeramkan. Namun baginya, hutan itu adalah satu-satunya tempat tinggal teraman yang dia punya. Bella tinggal sendirian di rumah itu. Yang menemaninya hanyalah para binatang-binatang yang tinggal di hutan.
     Bella adalah sosok yang penyayang terhadap semua binatang. Karena ia baik pada mereka, mereka pun menyukainya dan sering membantunya. Kegiatan sehari-harinya hanya memetik buah, mencari makanan, membuat baju, membersihkan rumah, dan bermain dengan binatang-binatang itu. Bella tidak pernah keluar dari hutan itu. Menurutnya, keadaan di luar hutan sangatlah buruk dan menakutkan.
     “Aku memang ingin keluar dari hutan ini tapi, aku takut akan keadaan sekitar. Mungkin saja di luar sana lebih berbahaya dibandingkan disini.” Pikir Bella sambil berjalan-jalan mencari buah.
     Walaupun ia tidak pernah ke luar hutan tapi, ia sering melihat keadaan kota dari atas bukit di hutan tersebut. Dia tahu semua bentuk-bentuk bangunan di kota tersebut.
     Sebenarnya, ia masih bingung dengan dirinya yang sebenarnya. Kenapa dia bisa tinggal di hutan ini? Dia tidak tahu siapa orang tuanya dan keluarga-keluarganya yang lain. Yang tertinggal hanyalah sebuah gelang yang berlambang bunga mawar putih. Gelang itu selalu dipakai Bella, kemana pun dan dimana pun. Ia memang sangat menyukai bunga mawar putih tapi, ia tak tahu apa arti lambang itu.
     “Bukannya lambang bunga merupakan lambang-lambang kerajaan? Apa aku seorang putri?” pikir Bella setiap ia melihat gelang itu.
     “Mungkin itu hanya kayalanku saja. Aku yang seperti ini mana mungkin seorang putri.”
     Di tengah kebingungannya itu, Bella berjalan mengitari sebuah genangan mata air yang berada di samping rumahnya. Dia duduk sambil memeluk salah satu kelinci kesukaannya. Ia melirik ke arah salah satu sudut genangan itu. Sesuatu yang bersinar terlihatnya. Bella mendekat dan didapatinya sebuah kalung berlambangkan bunga mawar merah. Kalung itu diduganya milik seorang pria yang dilihatnya semalam. Pria itu menggunakan pakaian megah dan mewah layaknya seorang pangeran. Ia memakai kalung itu agar jika bertemu dengan orang itu di hutan ia bisa mengembalikannya.
     Seperti biasa sebelum malam menjemput, Bella selalu menyempatkan waktu untuk memetik bunga mawar di belakang rumahnya. Bunga mawar yang dia petik biasanya akan dijadikan sebagai hiasan atau salah satu bahan pakaian dan sering juga ia menggunakannya sebagai parfum. Setelah itu, ia segera menyiapkan makanan untuk makan malam. Setelah selesai makan dan semua pekerjaannya juga selesai, ia segera beristirahat agar bisa bangun dengan baik esok harinya. Dalam tidurnya, ia bermimpi bertemu dengan seorang pangeran. Pangeran itu sering mendatangi rumahnya. Sewaktu-waktu jika ada kesempatan, pangeran itu mengajaknya berkeliling kota bersama menggunakan kudanya yang besar. Namun semuanya itu hanyalah mimpi. Ketika ia bangun, seperti biasa keadaannya tak berubah sedikit pun.
     Setelah tidur dengan lelap, tiba waktunya untuk bangun dan melakukan aktivitas seperti biasa. Pagi ini pagi yang sangat cerah. Matahari terlihat tampak bersahabat. Kegiatan Bella pun segera dimulai. Untuk menghibur dirinya agar tidak jenuh, ia sering menyanyikan sebuah lagu yang ia tak tahu ia dengar dari mana.
     Tiba-tiba dari kejauhan, terdengar suara seekor kuda yang sedang berlari menuju ke arahnya. Ternyata, ada seorang pria yang menunggangi kuda itu. Pria tersebut sama seperti yang ia pernah lihat dan yang ada mimpinya. Pria itu pun turun dari kudanya dan menghampiri Bella.
     “Apa kamu tinggal di hutan ini, nona?” tanya pangeran itu.
     “Yah benar. Kamu siapa? Kenapa ada di hutan ini?” jawab Bella.
     “Namaku Edward. Aku sering berjalan-jalan di hutan ini. Tapi, aku baru kali ini melihatmu. Kalau boleh aku tahu, siapa namamu?” tanya Edward.
     “Namaku Bella. Aku sudah lama tinggal disini.”
     “Apa kamu tinggal dengan orang tuamu?”
     “Tidak. Sampai saat ini aku tidak tahu siapa keluargaku. Keluarga yang aku punya sekarang hanyalah binatang-binatang di hutan ini.”
     “Oh, maafkan aku karena sudah lancang menanyakan keluargamu.”
     “Tidak masalah. Eh, kebetulan aku ketemu kamu. Apa ini kalung milikmu?” tanya Bella sambil memegang kalung itu.
     “Benar, kamu menemukannya dimana? Aku sudah mencarinya di seluruh hutan ini tapi tak ketemu.”
     “Aku menemukannya di dekat mata air di samping rumahku. Ambillah dan jaga baik-baik kalung ini.”
     “Baiklah. Terima kasih Bella. Tapi, sekarang aku harus kembali. Besok aku akan datang lagi disini. Semoga kita bisa bertemu lagi. Sampai jumpa.”
     “Sampai jumpa.” Balas Bella sambil tersenyum malu.
     Rupanya, Bella tidak mengetahui bahwa Edward adalah seorang pangeran dari kerajaan mawar merah. Edward adalah orang pertama yang berbicara dengan Bella di hutan tempat tinggalnya karena sebelumnya tidak ada yang memasuki hutan itu.
     Di tengah perjalanan istana, Edward terus mengingat Bella. Rupanya ia tertarik dengan gadis itu. Ia sejenak berhenti dan mengingat sesuatu. Kayaknya, Edward sempat melihat sebuah cincin yang digunakan Bella tapi, ia tak sempat menanyakan asal cincin itu. “Bukannya cincin yang Bella gunakan waktu itu adalah cincin kerajaan mawar putih? Apa dia putri yang hilang itu? Tapi katanya, ia tidak mengetahui apa pun soal orang tuanya. Ah, mungkin cincin itu hanya kebetulan sama atau aku yang salah melihatnya.” Pikir Edward. Ia kemudian melanjutkan perjalanannya ke istana.
     Keesokkan harinya, Edward segera bergegas untuk kembali ke hutan. Ia segera ingin bertemu Bella. Ia juga ingin menanyakan asal usul cincinnya itu. Sesampai di hutan tepatnya di rumah Bella, Edward segera mengetuk pintu rumah Bella dan memanggil namanya sambil salah satu tangannya memegang sebuah tangkai mawar putih yang baru dipetiknya. Bella pun membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk.
     “Selamat pagi, putri.” Sapa Edward dengan wajah tersenyum.
     “Selamat pagi, tapi kan aku bukan seorang putri?” balas Bella dengan wajah yang memerah.
     “Mungkin, tapi aku menganggapmu sebagai seorang putri. Tidak apa-apakan kalau aku memanggilmu dengan sebutan putri?”
     “Hahaha.... tidak apa-apa. Tak perlu seperti itu wajahmu. Aku tidak akan memarahimu.” Balas Bella sambil tertawa melihat wajah dan tingkah Edward.
     “Ngomong-ngomong, cincin yang kamu pakai itu kamu dapat dari mana?”
     “Ini mungkin pemberian orang tuaku karena dari aku kecil aku sudah memakai cincin ini. Tapi walaupun begitu aku tetap tidak tahu siapa orang tuaku.” Jawab Bella dengan ekspresi wajah yang murung seperti akan menangis.
     Edward pun melihat hal itu dengan rasa prihatin kepada Bella. Ia juga menyesal karena telah menanyakan cincin itu dan membawa Bella menjadi sedih.
     “Sudahlah Bella, nanti aku akan membantumu mencari orang tuamu. Tapi sebelumnya, aku ingin mengajakmu ke pesta ulang tahunku besok, apa kamu mau?”
     “Benarkah? Terima kasih. Hmm, aku tak mungkin menolak ajakanmu.”
     “Nanti aku akan menjemputmu besok jam tujuh malam. Aku harap kamu bisa menjadi tamu istimewaku.”
     Bella hanya mampu tersenyum tanpa berkata-kata lagi. Setelah berbicara dan berjalan-jalan dengan Edward, barulah ia tahu bahwa Edward adalah seorang pangeran dari kerajaan mawar merah. Lambang yang ia lihat di kalung Edward waktu itu adalah lambang kerajaan miliknya. Edward pun menceritakan beberapa lambang kerajaan yang ia ketahui termasuk lambang kerajaan mawar putih yang sama dengan gambar di cincin milik Bella. Mereka pun berharap bahwa Bella adalah anak dari raja dan ratu kerajaan mawar putih. Bella sangat senang mendengar cerita Edward. Ia pun sempat mengingat satu hal. Saat ia di hutan pertama kali, ia menggunakan pakaian layaknya seorang putri dengan lambang yang sama dengan cincinnya. Ia semakin yakin bahwa dia adalah seorang putri. Namun, ia tidak mau terlalu banyak berharap karena ia takut jika nantinya ia salah dan menjadi kecewa.
     Besok harinya, ia segera bersiap-siap untuk ke pesta. Ia bingung mencari pakaian yang pantas ia gunakan. Tapi, rupanya Edward sudah mengatasi masalah itu. Ia telah mengirimkan gaun pesta beserta sepatu dan perhiasannya. Bella sangat senang dan segera mencobanya. Ternyata, baju itu sangat cocok dengan tubuhnya. Ia pun menambahkan sedikit perhiasan menggunakan bunga-bunga di belakang rumahnya. Gaun yang tampak simple itu pun, seketika berubah menjadi gaun mewah yang elegan dan anggun. Sekarang ia siap ke pesta. Edward pun datang menjemputnya. Ia sangat kaget melihat penampilan Bella.
     “Apa ini gaun yang aku kirim?” tanya Edward dengan wajah yang tampak terkesan.
     “Yah, tapi aku sedikit mengubahnya.”
     “Kamu terlihat sangat cantik. Cara berpakaianmu seperti Ratu Estella. Ratu dari kerajaan mawar putih yang sudah datang di pestaku sebelum aku kemari.”
     “Benarkah? Mungkin dia ibuku.”
     “Apa kamu sudah siap?”
     “Yah, ayo kita pergi, aku sudah tidak sabar bertemu dengan mereka.”
     Mereka pun pergi. Sampai di istana, Bella tidak langsung mencari-cari keluarganya. Tapi, ia diperkenalkan terlebih dahulu kepada orang tua Edward. Tampaknya orang tua Edward menyukai Bella karena kesopanan dan wajahnya yang cantik. Edward juga memberitahukan kepada ibunya bahwa gaun yang dipakai Bella adalah gaun buatannya sendiri. Hal itu, membuat ibunya semakin menyukai Bella. Bella ditawarkan untuk makan bersama dengan mereka. Setelah makan bersama, Edward mengajak bella untuk berdansa. Menurut ibunya, baru kali ini Edward kelihatan gembira seperti dulu lagi. Mungkin sejak bertemu dengan Bella.
     Tiba-tiba ada seorang wanita yang memanggil nama Bella saat ia sedang berdansa. Wanita itu ternyata adalah Ratu Estella. Ia sekarang tahu bahwa Bella adalah anak yang ia cari selama ini. Bella pun sangat senang karena bisa bertemu ibunya lagi. Dan ini semua karena Edward.
     Akhirnya, kedua orang tua mereka sepakat untuk mengadakan pernikahan di antara Bella dan Edward. Menurut mereka, Bella dan Edward merupakan pasangan yang sangat serasi. Segala persiapan pernikahan diatur dengan sedemikian rupa agar dapat menjadi pesta yang terbesar dan termegah di antara kedua kerajaan nantinya. Warna-warna yang dipilih mereka diambil dari lambang kerajaan mereka masing-masing yaitu warna merah dan warna putih, serta ditambahkan sedikit dekorasi-dekorasi yang menggunakan warna emas dan perak.
     Seminggu kemudian, acara pernikahan mereka tiba. Pernikahan mereka berlangsung dengan baik dan sesuai rencana. Para tamu banyak yang terpesona melihat Bella dan Edward karena menurut mereka, pernikahan ini sangatlah menarik dan pantas dirayakan dengan mewah. Di pernikahan mereka juga hadir teman-teman kecil Bella yaitu binatang-binatang di hutan tempat tinggalnya dulu. Menurut Bella, ini merupakan pesta terbesar dan terindah dalam hidupnya yang tak bisa ia lupakan seumur hidup.
     Mereka pun hidup bahagia di istana mereka sendiri. Sedangkan rumahnya dulu dijadikan sebagai tempat pelestarian hewan-hewan di hutan. Hutan itu pun sudah resmi dinyatakan sebagai hutan milik kerajaan mereka berdua. Dan sekarang sudah banyak orang yang datang melihat hutan tersebut. Hutan itu sudah tidak ditakuti lagi. Dan akhirnya, semuanya pun hidup bahagia dengan kehidupan mereka masing-masing.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;