Kamis, 17 Mei 2012

Rajin Membawa Kebahagiaan

Alkisah lahirlah dua anak kembar yang selang waktu kelahiran mereka hanya berbeda dua menit,mereka berdua terlahir di tengah keluarga yang terhormat,yang memiliki perusahaan terkemuka di Jakarta.
     Si kakak yang bernama Roi adalah anak yang ganteng,cukup pintar,dan sangat suka dunia otomotif.
     Sedangkan adiknya bernama Rio adalah anak yang pintar,dan juga ganteng,tapi berbeda dengan kakaknya,dia tidak suka dunia otomotif,melainkan lebih suka dunia olahraga. Dia juga anak yang penurut pada orang tuanya.
     Di umur mereka yang ke-16 tahun,mereka akan di uji oleh orang tua mereka tanpa sepengatahuan mereka untuk menjadi pewaris tunggal perusahaan.Perusahaan itu bernama Gajah Mada,yaitu perusahaan terbesar milik keluarga mereka.Setelah diadakan pengujian,mereka berduapun lolos dari tantangan tersebut.
     “Ka,senang yah.Akhirnya kita bisa menyelesaikan tugas dari mami dan papi”
     “Biasa aja,kalau hanya disuruh melakukan itu,aku juga bisa.Tapi untuk apa yah tugas itu?”
     “Aku juga tidak tahu”kata Rio. “Apa mungkin kita di uji untuk menjadi pewaris perusahaan?”
     “Mungkin saja,yang pasti aku yang akan jadi ahli waris perusahaan Gajah Mada.”
     “Terserahlah,aku juga tidak berminat dengan hal itu.”
     “Baguslah kalau begitu,aku tidak perlu repot-repot mengurusmu.Aku ke kamar dulu yah!”sambung ka Roi.
     Ka Roi sebenarnya sangat baik padaku,tapi akhir-akhir ini ka Roi lebih sibuk dengan urusannya sendiri.Ia lebih banyak mengurusi urusan otomotif di luar rumah,dan sering pulang larut malam.Akhir-akhir ini dia lebih merasa kalau ia tersaingi denganku,untuk menjadi ahli waris.Sebenarnya aku ingin langsung beri perusahaan itu kepada kakak bila nanti perusahaan itu diwariskan kepadaku. Tapi aku sempat mendengar pembicaraan mami dan papi bahwa untuk memilih siapa yang akan menjadi ahli waris perusahaan antara aku dan kakak harus secara adil tidak boleh ada yang saling beri begitu saja.
     Tapi aku yakin, kalau kakak Roi ingin perusahaan itu, dia pasti bisa mendapatkannya sendiri. Dia pasti bisa menunjukkannya pada mami dan papi.
     Setelah itu, diruang tengah, mami memanggil kami berdua.
     “Roi, Rio”
     Roi langsung berlari dari kamarnya menuju ruang tengah sambil memegang salah satu majalah otomotif kesukaannya.Aku juga langsung pergi menuju ruang tengah dari kamarku.
     “Iya, mami ada apa?” tanya ka Roi.
     “Ada apa mami?” tanyaku
     “Kalian berdua tidurlah sekarang karena besok kalian akan pergi mengunjungi nenek dan kakek di desa, jadi beristirahatlah sekarang agar besok kalian bisa bangun pagi dan bersiap-siap dengan cepat.”
     “Tapi mami?”
     “Tapi kenapa Roi?”
     “Tapi kenapa papi dan mami baru bilang sekarang? Kalau papi bilangnya kemarin, aku pasti sudah beli hadiah untuk kakek dan nenek”
     “Oleh-olehnya akan papi kirim besok”
     “Kirim? Memangnya besok papi nggak ikut sama kita?”
     “Iya. Papi dan mami masih banyak pekerjaan jadi belum bisa pergi ke desa. Jadi kalian dulu yang pergi. Nanti papi dan mami ikut nyusul”
     “Kapan papi dan mami nyusul?”
     “Setelah pekerjaan kami selesai.”
     Aku dan kakak langsung ke kamar masing-masing setelah perbincangan kami tadi berakhir.
     Keesokkan harinya aku dan kakak pun pergi ke desa bersama dengan Pak Suryo sopir kami. Perjalanan yang kami butuhkan untuk sampai ke desa sekitar satu setengah hari. Akhirnya, kami tiba di desa, di rumah kakek dan nenek. Kami sudah tidak pernah bertemu dengan kakek dan nenek sekitar dua tahun lamanya. Setelah kami bertemu dengan kakek dan nenek, ternyata mereka masih sama seperti dulu, tetap baik dan selalu dapat membahagiakan kami. Nenek dan kakek juga selalu tampak akur dan tak pernah sesekali kami mendengar atau melihat mereka bertengkar. Kakek selalu tetap tersenyum walaupun ia sudah tua dan duduk dikursi roda.
     Disini kami dibuat lebih mandiri. Aku dan ka Roi harus mengatur diri sendiri serta semua barang kami atau keperluan kami harus dijaga dan dirapikan masing-masing, dan kami pun tak boleh bermanja-manja.
     Keesokkan harinya, mami memberitahukan bahwa ia akan datang kesini. Maka, kakek dan nenek akan pergi menjemput mami dan papi. Kakek dan nenek menyuruh kami untuk membersihkan rumah serta menjaga rumah selagi kakek dan nenek pergi. Setelah memberitahukan hal itu mereka langsung pergi.
     Perjalanan yang akan dilalui sekitar dua hari. Sementara itu aku dan kakak Roi ditinggalkan berdua saja. Kami pun membersihkan rumah dengan teliti.
     “Aku sudah capek nih! Rio gantiin kakak dong! Kakak ada perlu sebentar.”
     “Iya ka.” Jawabku.
     Kakak langsung meninggalkan aku sendiri membersihkan rumah. Sementara itu kakak sibuk dengan urusan otomotifnya itu. Dia sibuk membongkar-bongkar mobilnya dan hanya membuat halaman rumah menjadi kotor.
     Aku pun segera menyelesaikan tugasku dan membersihkan kamar depan. Tiba-tiba aku menemukan sebuah kertas yang kelihatannya sebuah kertas penting. Aku langsung menyembunyikan kertas itu. Lalu aku kembali melanjutkan tugasku.
     Dua hari kemudian. Kakek dan nenek beserta mami dan papi tiba dirumah. Saat itu ka Roi lagi asik tidur dan aku sedang membersihkan halaman.
     “Hai mami, hai papi”
     “Hai juga Rio. Dimana kakakmu?”
     “Kakak sedang tidur mami”
     “Sudah sejak kapan?”
     “Sejak tadi belum bangun. Sebenarnya tugas kakak Roi pagi ini yang harus membersihkan halaman. Tapi karena ia belum bangun jadi aku yang gantiin dia.”
     “Cepat bangunkan dia” jawab mami sambil marah-marah.
     “Ia mami...”
     “Ka....ka....ka Roi. Cepat bangun mami dan papi udah datang.”
     “Apa? Kapan sampainya?” jawab Ka Roi dengan kaget sambil segera melompat dari tempat tidur.
     “Belum lama sih! Baru saja sampai”
     “Kenapa kamu baru bangunkan aku?”
     “Aku nggak tahu kalau mami dan papi akan datang pagi ini”
     Ka Roi pun segera pergi menuju mami dan papi. Tampaknya ia sedikit marah-marah.
     “Roi... Kenapa kamu tidak melaksanakan tugasmu?”
     “Maaf mami. Aku kelelahan semalam”
     “Emangnya kamu buat apa semalam?”
     “Aku lagi memperbaikki mobilku”
     “Itu terus yang kamu pikirkan. Sementara itu, kamu biarkan adik kamu bekerja sendiri. Seharusnya kamu mencontohi adikmu itu. Ia tidak pernah tidak melaksanakan tugasnya walaupun ia kelelahan”
     “Maaf mami..”
     “Mami, aku dapat kertas di bawah tempat tidur di kamar depan” ucapkku sambil memotong pembicaraan mami dan kakak.   
     “Sebenarnya itu adalah kertas surat warisan perusahaan yang nantinya akan diberikan kepada salah satu dari kalian yang bisa bertanggung jawab dan melaksanakan tugasnya dengan baik dan benar. Jadi, selama ini kamu yang membersihkan rumah. Bukan kakak kamu?”
     “Dari mana mami tahu?”
     “Dengan kamu menemukan kertas itu maka mami tahu bahwa kamulah yang membersihkan rumah. Dan juga rumah ini memang terlihat sangat bersih. Jika kakakmu yang membersihkannya pasti tidak sebersih ini. Jadi kamulah yang berhak mewarisi perusahaan Gajah Mada”
     “Tapi mami aku nggak butuh semua itu aku juga nggak mau” 
     “Tapi kamu harus”
     “Baiklah mami”
     Akhirnya , dengan aku yang selalu penurut dan rajin, berhak mewarisi perusahaan keluarga dan hidup bahagia. Sedangkan kakak menyesal dengan perbuatannya. Ternyata rajin itu dapat membuahkan hasil yang membahagiakan.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;