Rabu, 20 Juni 2012 0 komentar

My Love

you are very special in my life
you have a place in my heart
only you who can replace him my heart

though we often quarrel
due to our own selfishness
but my heart still loves you

though you often make me jealous
and often makes me angry
but my heart will keep you

you have come to replace
replace people who have me love
replace those that mean in my life

I'm sorry dear
I'm sorry for any mistakes
what I did to you during this

sorry for rant to you
I apologize for the conduct of this month
sorry for everything

I hope you can forgive me
and willing to take me back
though I know your heart is very sore on my behavior

I beg you do not ever hate me
though I never told you to hate me
because I'm still very dear to you
Kamis, 17 Mei 2012 0 komentar

Rajin Membawa Kebahagiaan

Alkisah lahirlah dua anak kembar yang selang waktu kelahiran mereka hanya berbeda dua menit,mereka berdua terlahir di tengah keluarga yang terhormat,yang memiliki perusahaan terkemuka di Jakarta.
     Si kakak yang bernama Roi adalah anak yang ganteng,cukup pintar,dan sangat suka dunia otomotif.
     Sedangkan adiknya bernama Rio adalah anak yang pintar,dan juga ganteng,tapi berbeda dengan kakaknya,dia tidak suka dunia otomotif,melainkan lebih suka dunia olahraga. Dia juga anak yang penurut pada orang tuanya.
     Di umur mereka yang ke-16 tahun,mereka akan di uji oleh orang tua mereka tanpa sepengatahuan mereka untuk menjadi pewaris tunggal perusahaan.Perusahaan itu bernama Gajah Mada,yaitu perusahaan terbesar milik keluarga mereka.Setelah diadakan pengujian,mereka berduapun lolos dari tantangan tersebut.
     “Ka,senang yah.Akhirnya kita bisa menyelesaikan tugas dari mami dan papi”
     “Biasa aja,kalau hanya disuruh melakukan itu,aku juga bisa.Tapi untuk apa yah tugas itu?”
     “Aku juga tidak tahu”kata Rio. “Apa mungkin kita di uji untuk menjadi pewaris perusahaan?”
     “Mungkin saja,yang pasti aku yang akan jadi ahli waris perusahaan Gajah Mada.”
     “Terserahlah,aku juga tidak berminat dengan hal itu.”
     “Baguslah kalau begitu,aku tidak perlu repot-repot mengurusmu.Aku ke kamar dulu yah!”sambung ka Roi.
     Ka Roi sebenarnya sangat baik padaku,tapi akhir-akhir ini ka Roi lebih sibuk dengan urusannya sendiri.Ia lebih banyak mengurusi urusan otomotif di luar rumah,dan sering pulang larut malam.Akhir-akhir ini dia lebih merasa kalau ia tersaingi denganku,untuk menjadi ahli waris.Sebenarnya aku ingin langsung beri perusahaan itu kepada kakak bila nanti perusahaan itu diwariskan kepadaku. Tapi aku sempat mendengar pembicaraan mami dan papi bahwa untuk memilih siapa yang akan menjadi ahli waris perusahaan antara aku dan kakak harus secara adil tidak boleh ada yang saling beri begitu saja.
     Tapi aku yakin, kalau kakak Roi ingin perusahaan itu, dia pasti bisa mendapatkannya sendiri. Dia pasti bisa menunjukkannya pada mami dan papi.
     Setelah itu, diruang tengah, mami memanggil kami berdua.
     “Roi, Rio”
     Roi langsung berlari dari kamarnya menuju ruang tengah sambil memegang salah satu majalah otomotif kesukaannya.Aku juga langsung pergi menuju ruang tengah dari kamarku.
     “Iya, mami ada apa?” tanya ka Roi.
     “Ada apa mami?” tanyaku
     “Kalian berdua tidurlah sekarang karena besok kalian akan pergi mengunjungi nenek dan kakek di desa, jadi beristirahatlah sekarang agar besok kalian bisa bangun pagi dan bersiap-siap dengan cepat.”
     “Tapi mami?”
     “Tapi kenapa Roi?”
     “Tapi kenapa papi dan mami baru bilang sekarang? Kalau papi bilangnya kemarin, aku pasti sudah beli hadiah untuk kakek dan nenek”
     “Oleh-olehnya akan papi kirim besok”
     “Kirim? Memangnya besok papi nggak ikut sama kita?”
     “Iya. Papi dan mami masih banyak pekerjaan jadi belum bisa pergi ke desa. Jadi kalian dulu yang pergi. Nanti papi dan mami ikut nyusul”
     “Kapan papi dan mami nyusul?”
     “Setelah pekerjaan kami selesai.”
     Aku dan kakak langsung ke kamar masing-masing setelah perbincangan kami tadi berakhir.
     Keesokkan harinya aku dan kakak pun pergi ke desa bersama dengan Pak Suryo sopir kami. Perjalanan yang kami butuhkan untuk sampai ke desa sekitar satu setengah hari. Akhirnya, kami tiba di desa, di rumah kakek dan nenek. Kami sudah tidak pernah bertemu dengan kakek dan nenek sekitar dua tahun lamanya. Setelah kami bertemu dengan kakek dan nenek, ternyata mereka masih sama seperti dulu, tetap baik dan selalu dapat membahagiakan kami. Nenek dan kakek juga selalu tampak akur dan tak pernah sesekali kami mendengar atau melihat mereka bertengkar. Kakek selalu tetap tersenyum walaupun ia sudah tua dan duduk dikursi roda.
     Disini kami dibuat lebih mandiri. Aku dan ka Roi harus mengatur diri sendiri serta semua barang kami atau keperluan kami harus dijaga dan dirapikan masing-masing, dan kami pun tak boleh bermanja-manja.
     Keesokkan harinya, mami memberitahukan bahwa ia akan datang kesini. Maka, kakek dan nenek akan pergi menjemput mami dan papi. Kakek dan nenek menyuruh kami untuk membersihkan rumah serta menjaga rumah selagi kakek dan nenek pergi. Setelah memberitahukan hal itu mereka langsung pergi.
     Perjalanan yang akan dilalui sekitar dua hari. Sementara itu aku dan kakak Roi ditinggalkan berdua saja. Kami pun membersihkan rumah dengan teliti.
     “Aku sudah capek nih! Rio gantiin kakak dong! Kakak ada perlu sebentar.”
     “Iya ka.” Jawabku.
     Kakak langsung meninggalkan aku sendiri membersihkan rumah. Sementara itu kakak sibuk dengan urusan otomotifnya itu. Dia sibuk membongkar-bongkar mobilnya dan hanya membuat halaman rumah menjadi kotor.
     Aku pun segera menyelesaikan tugasku dan membersihkan kamar depan. Tiba-tiba aku menemukan sebuah kertas yang kelihatannya sebuah kertas penting. Aku langsung menyembunyikan kertas itu. Lalu aku kembali melanjutkan tugasku.
     Dua hari kemudian. Kakek dan nenek beserta mami dan papi tiba dirumah. Saat itu ka Roi lagi asik tidur dan aku sedang membersihkan halaman.
     “Hai mami, hai papi”
     “Hai juga Rio. Dimana kakakmu?”
     “Kakak sedang tidur mami”
     “Sudah sejak kapan?”
     “Sejak tadi belum bangun. Sebenarnya tugas kakak Roi pagi ini yang harus membersihkan halaman. Tapi karena ia belum bangun jadi aku yang gantiin dia.”
     “Cepat bangunkan dia” jawab mami sambil marah-marah.
     “Ia mami...”
     “Ka....ka....ka Roi. Cepat bangun mami dan papi udah datang.”
     “Apa? Kapan sampainya?” jawab Ka Roi dengan kaget sambil segera melompat dari tempat tidur.
     “Belum lama sih! Baru saja sampai”
     “Kenapa kamu baru bangunkan aku?”
     “Aku nggak tahu kalau mami dan papi akan datang pagi ini”
     Ka Roi pun segera pergi menuju mami dan papi. Tampaknya ia sedikit marah-marah.
     “Roi... Kenapa kamu tidak melaksanakan tugasmu?”
     “Maaf mami. Aku kelelahan semalam”
     “Emangnya kamu buat apa semalam?”
     “Aku lagi memperbaikki mobilku”
     “Itu terus yang kamu pikirkan. Sementara itu, kamu biarkan adik kamu bekerja sendiri. Seharusnya kamu mencontohi adikmu itu. Ia tidak pernah tidak melaksanakan tugasnya walaupun ia kelelahan”
     “Maaf mami..”
     “Mami, aku dapat kertas di bawah tempat tidur di kamar depan” ucapkku sambil memotong pembicaraan mami dan kakak.   
     “Sebenarnya itu adalah kertas surat warisan perusahaan yang nantinya akan diberikan kepada salah satu dari kalian yang bisa bertanggung jawab dan melaksanakan tugasnya dengan baik dan benar. Jadi, selama ini kamu yang membersihkan rumah. Bukan kakak kamu?”
     “Dari mana mami tahu?”
     “Dengan kamu menemukan kertas itu maka mami tahu bahwa kamulah yang membersihkan rumah. Dan juga rumah ini memang terlihat sangat bersih. Jika kakakmu yang membersihkannya pasti tidak sebersih ini. Jadi kamulah yang berhak mewarisi perusahaan Gajah Mada”
     “Tapi mami aku nggak butuh semua itu aku juga nggak mau” 
     “Tapi kamu harus”
     “Baiklah mami”
     Akhirnya , dengan aku yang selalu penurut dan rajin, berhak mewarisi perusahaan keluarga dan hidup bahagia. Sedangkan kakak menyesal dengan perbuatannya. Ternyata rajin itu dapat membuahkan hasil yang membahagiakan.
3 komentar

Merindukanmu

Aku tak pernah menyangka
Sebesar inikah rinduku?
Merindukan hadirmu
Saat kita bersama dulu

    Awalnya sebelum hari ini
    Aku mencoba melupakanmu
    Berusaha menghilangkan semua
    Dan ku yakin aku pasti bisa

Sempatku berpikir
Kau tidak akan pernah
Hadir lagi dihadapanku
Kau sudah benar-benar pergi

    Tapi ternyata itu tak benar
    Kau hadir dihadapanku
    Membawa luka batin bagiku
    Dan luka fisik darimu

Seminggu lebih tak bertemu
Kau sudah berubah
Kau membuatku
Semakin berharap lagi

    Tapi apa yang terjadi?
    Ada apa denganmu?
    Kenapa kamu seperti ini?
    Apa sebabnya?

Banyak pertanyaan untukmu
Tapi tak berani ku ajukan
Dan mungkin juga
Tak akan ada jawaban

    Sekarang ku yakin
    Aku sudah terlanjur
    Dan terlanjur mencintaimu
    Aku tak bisa melupakanmu

Tak apa kau pergi
Aku disini kan mencoba
Membencimu atau mencintaimu
Melupakanmu atau merindukanmu

    Terima kasih atas hadirmu hari ini
    Yang buat hatiku bahagia
    Tak apa kau seperti ini
    Aku kan tetap mencintaimu

Rabu, 16 Mei 2012
0 komentar

Kenapa?

Apa aku sudah gila?
Kenapa aku harus menerimanya?
Orang yang sangat ku benci
Orang yang sangat jahat

    Kenapa harus dia?
    Aku tahu hari ini
    Aku sedang bimbang
    Aku masih sakit hati

Tapi haruskah dia?
Orang yang menggantinya
Mengganti dia di hatiku
Dan mengisi kekosonganku

    Walaupun aku menerimanya
    Tapi aku tak bisa bersamany
    Walau dia terus memaksa
    Terap aku tak bisa mencintainya

Biarkanlah dia mengerti
Bagaimana perasaanku
Bagaimana hatiku
Dan bagaimana rasaku padanya

    Cinta tak bisa dipaksakan
    Tapi kenapa aku bodoh?
    Menerima orang sepertinya
    Orang yan tak kucintai

Bukankah ini semua
Kan menyakiti hatinya
Dan menyakiti perasaanku
Perasaan kita berdua

    Maafkan aku
    Bukan maksudku menyakitimu
    Dan menerimu secara terpaksa
    Sekali maafkan aku

Aku takut mengatakannya
Mengatakan yang sebenarnya
Karena aku tahu
Cintamu ini benar-benar tulus

    Tapi kenapa harus dia?
    Dia yang menjadi pelampiasanku
    Pelampiasan yang tak seharusnya
    Bodohnya aku....

Rabu, 16 Mei 2012
Selasa, 15 Mei 2012 0 komentar

Putri Mawar Putih

Jauh di suatu tempat yang penuh dengan pepohonan lebat yang menjulang tinggi, tinggallah seorang gadis yang cantik dan baik hati. Namanya Bella. Ia tinggal di sebuah rumah yang sederhana di tengah hutan. Tak ada yang pernah datang di hutan tersebut karena menurut cerita masyarakat, hutan tersebut sangatlah menyeramkan. Namun baginya, hutan itu adalah satu-satunya tempat tinggal teraman yang dia punya. Bella tinggal sendirian di rumah itu. Yang menemaninya hanyalah para binatang-binatang yang tinggal di hutan.
     Bella adalah sosok yang penyayang terhadap semua binatang. Karena ia baik pada mereka, mereka pun menyukainya dan sering membantunya. Kegiatan sehari-harinya hanya memetik buah, mencari makanan, membuat baju, membersihkan rumah, dan bermain dengan binatang-binatang itu. Bella tidak pernah keluar dari hutan itu. Menurutnya, keadaan di luar hutan sangatlah buruk dan menakutkan.
     “Aku memang ingin keluar dari hutan ini tapi, aku takut akan keadaan sekitar. Mungkin saja di luar sana lebih berbahaya dibandingkan disini.” Pikir Bella sambil berjalan-jalan mencari buah.
     Walaupun ia tidak pernah ke luar hutan tapi, ia sering melihat keadaan kota dari atas bukit di hutan tersebut. Dia tahu semua bentuk-bentuk bangunan di kota tersebut.
     Sebenarnya, ia masih bingung dengan dirinya yang sebenarnya. Kenapa dia bisa tinggal di hutan ini? Dia tidak tahu siapa orang tuanya dan keluarga-keluarganya yang lain. Yang tertinggal hanyalah sebuah gelang yang berlambang bunga mawar putih. Gelang itu selalu dipakai Bella, kemana pun dan dimana pun. Ia memang sangat menyukai bunga mawar putih tapi, ia tak tahu apa arti lambang itu.
     “Bukannya lambang bunga merupakan lambang-lambang kerajaan? Apa aku seorang putri?” pikir Bella setiap ia melihat gelang itu.
     “Mungkin itu hanya kayalanku saja. Aku yang seperti ini mana mungkin seorang putri.”
     Di tengah kebingungannya itu, Bella berjalan mengitari sebuah genangan mata air yang berada di samping rumahnya. Dia duduk sambil memeluk salah satu kelinci kesukaannya. Ia melirik ke arah salah satu sudut genangan itu. Sesuatu yang bersinar terlihatnya. Bella mendekat dan didapatinya sebuah kalung berlambangkan bunga mawar merah. Kalung itu diduganya milik seorang pria yang dilihatnya semalam. Pria itu menggunakan pakaian megah dan mewah layaknya seorang pangeran. Ia memakai kalung itu agar jika bertemu dengan orang itu di hutan ia bisa mengembalikannya.
     Seperti biasa sebelum malam menjemput, Bella selalu menyempatkan waktu untuk memetik bunga mawar di belakang rumahnya. Bunga mawar yang dia petik biasanya akan dijadikan sebagai hiasan atau salah satu bahan pakaian dan sering juga ia menggunakannya sebagai parfum. Setelah itu, ia segera menyiapkan makanan untuk makan malam. Setelah selesai makan dan semua pekerjaannya juga selesai, ia segera beristirahat agar bisa bangun dengan baik esok harinya. Dalam tidurnya, ia bermimpi bertemu dengan seorang pangeran. Pangeran itu sering mendatangi rumahnya. Sewaktu-waktu jika ada kesempatan, pangeran itu mengajaknya berkeliling kota bersama menggunakan kudanya yang besar. Namun semuanya itu hanyalah mimpi. Ketika ia bangun, seperti biasa keadaannya tak berubah sedikit pun.
     Setelah tidur dengan lelap, tiba waktunya untuk bangun dan melakukan aktivitas seperti biasa. Pagi ini pagi yang sangat cerah. Matahari terlihat tampak bersahabat. Kegiatan Bella pun segera dimulai. Untuk menghibur dirinya agar tidak jenuh, ia sering menyanyikan sebuah lagu yang ia tak tahu ia dengar dari mana.
     Tiba-tiba dari kejauhan, terdengar suara seekor kuda yang sedang berlari menuju ke arahnya. Ternyata, ada seorang pria yang menunggangi kuda itu. Pria tersebut sama seperti yang ia pernah lihat dan yang ada mimpinya. Pria itu pun turun dari kudanya dan menghampiri Bella.
     “Apa kamu tinggal di hutan ini, nona?” tanya pangeran itu.
     “Yah benar. Kamu siapa? Kenapa ada di hutan ini?” jawab Bella.
     “Namaku Edward. Aku sering berjalan-jalan di hutan ini. Tapi, aku baru kali ini melihatmu. Kalau boleh aku tahu, siapa namamu?” tanya Edward.
     “Namaku Bella. Aku sudah lama tinggal disini.”
     “Apa kamu tinggal dengan orang tuamu?”
     “Tidak. Sampai saat ini aku tidak tahu siapa keluargaku. Keluarga yang aku punya sekarang hanyalah binatang-binatang di hutan ini.”
     “Oh, maafkan aku karena sudah lancang menanyakan keluargamu.”
     “Tidak masalah. Eh, kebetulan aku ketemu kamu. Apa ini kalung milikmu?” tanya Bella sambil memegang kalung itu.
     “Benar, kamu menemukannya dimana? Aku sudah mencarinya di seluruh hutan ini tapi tak ketemu.”
     “Aku menemukannya di dekat mata air di samping rumahku. Ambillah dan jaga baik-baik kalung ini.”
     “Baiklah. Terima kasih Bella. Tapi, sekarang aku harus kembali. Besok aku akan datang lagi disini. Semoga kita bisa bertemu lagi. Sampai jumpa.”
     “Sampai jumpa.” Balas Bella sambil tersenyum malu.
     Rupanya, Bella tidak mengetahui bahwa Edward adalah seorang pangeran dari kerajaan mawar merah. Edward adalah orang pertama yang berbicara dengan Bella di hutan tempat tinggalnya karena sebelumnya tidak ada yang memasuki hutan itu.
     Di tengah perjalanan istana, Edward terus mengingat Bella. Rupanya ia tertarik dengan gadis itu. Ia sejenak berhenti dan mengingat sesuatu. Kayaknya, Edward sempat melihat sebuah cincin yang digunakan Bella tapi, ia tak sempat menanyakan asal cincin itu. “Bukannya cincin yang Bella gunakan waktu itu adalah cincin kerajaan mawar putih? Apa dia putri yang hilang itu? Tapi katanya, ia tidak mengetahui apa pun soal orang tuanya. Ah, mungkin cincin itu hanya kebetulan sama atau aku yang salah melihatnya.” Pikir Edward. Ia kemudian melanjutkan perjalanannya ke istana.
     Keesokkan harinya, Edward segera bergegas untuk kembali ke hutan. Ia segera ingin bertemu Bella. Ia juga ingin menanyakan asal usul cincinnya itu. Sesampai di hutan tepatnya di rumah Bella, Edward segera mengetuk pintu rumah Bella dan memanggil namanya sambil salah satu tangannya memegang sebuah tangkai mawar putih yang baru dipetiknya. Bella pun membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk.
     “Selamat pagi, putri.” Sapa Edward dengan wajah tersenyum.
     “Selamat pagi, tapi kan aku bukan seorang putri?” balas Bella dengan wajah yang memerah.
     “Mungkin, tapi aku menganggapmu sebagai seorang putri. Tidak apa-apakan kalau aku memanggilmu dengan sebutan putri?”
     “Hahaha.... tidak apa-apa. Tak perlu seperti itu wajahmu. Aku tidak akan memarahimu.” Balas Bella sambil tertawa melihat wajah dan tingkah Edward.
     “Ngomong-ngomong, cincin yang kamu pakai itu kamu dapat dari mana?”
     “Ini mungkin pemberian orang tuaku karena dari aku kecil aku sudah memakai cincin ini. Tapi walaupun begitu aku tetap tidak tahu siapa orang tuaku.” Jawab Bella dengan ekspresi wajah yang murung seperti akan menangis.
     Edward pun melihat hal itu dengan rasa prihatin kepada Bella. Ia juga menyesal karena telah menanyakan cincin itu dan membawa Bella menjadi sedih.
     “Sudahlah Bella, nanti aku akan membantumu mencari orang tuamu. Tapi sebelumnya, aku ingin mengajakmu ke pesta ulang tahunku besok, apa kamu mau?”
     “Benarkah? Terima kasih. Hmm, aku tak mungkin menolak ajakanmu.”
     “Nanti aku akan menjemputmu besok jam tujuh malam. Aku harap kamu bisa menjadi tamu istimewaku.”
     Bella hanya mampu tersenyum tanpa berkata-kata lagi. Setelah berbicara dan berjalan-jalan dengan Edward, barulah ia tahu bahwa Edward adalah seorang pangeran dari kerajaan mawar merah. Lambang yang ia lihat di kalung Edward waktu itu adalah lambang kerajaan miliknya. Edward pun menceritakan beberapa lambang kerajaan yang ia ketahui termasuk lambang kerajaan mawar putih yang sama dengan gambar di cincin milik Bella. Mereka pun berharap bahwa Bella adalah anak dari raja dan ratu kerajaan mawar putih. Bella sangat senang mendengar cerita Edward. Ia pun sempat mengingat satu hal. Saat ia di hutan pertama kali, ia menggunakan pakaian layaknya seorang putri dengan lambang yang sama dengan cincinnya. Ia semakin yakin bahwa dia adalah seorang putri. Namun, ia tidak mau terlalu banyak berharap karena ia takut jika nantinya ia salah dan menjadi kecewa.
     Besok harinya, ia segera bersiap-siap untuk ke pesta. Ia bingung mencari pakaian yang pantas ia gunakan. Tapi, rupanya Edward sudah mengatasi masalah itu. Ia telah mengirimkan gaun pesta beserta sepatu dan perhiasannya. Bella sangat senang dan segera mencobanya. Ternyata, baju itu sangat cocok dengan tubuhnya. Ia pun menambahkan sedikit perhiasan menggunakan bunga-bunga di belakang rumahnya. Gaun yang tampak simple itu pun, seketika berubah menjadi gaun mewah yang elegan dan anggun. Sekarang ia siap ke pesta. Edward pun datang menjemputnya. Ia sangat kaget melihat penampilan Bella.
     “Apa ini gaun yang aku kirim?” tanya Edward dengan wajah yang tampak terkesan.
     “Yah, tapi aku sedikit mengubahnya.”
     “Kamu terlihat sangat cantik. Cara berpakaianmu seperti Ratu Estella. Ratu dari kerajaan mawar putih yang sudah datang di pestaku sebelum aku kemari.”
     “Benarkah? Mungkin dia ibuku.”
     “Apa kamu sudah siap?”
     “Yah, ayo kita pergi, aku sudah tidak sabar bertemu dengan mereka.”
     Mereka pun pergi. Sampai di istana, Bella tidak langsung mencari-cari keluarganya. Tapi, ia diperkenalkan terlebih dahulu kepada orang tua Edward. Tampaknya orang tua Edward menyukai Bella karena kesopanan dan wajahnya yang cantik. Edward juga memberitahukan kepada ibunya bahwa gaun yang dipakai Bella adalah gaun buatannya sendiri. Hal itu, membuat ibunya semakin menyukai Bella. Bella ditawarkan untuk makan bersama dengan mereka. Setelah makan bersama, Edward mengajak bella untuk berdansa. Menurut ibunya, baru kali ini Edward kelihatan gembira seperti dulu lagi. Mungkin sejak bertemu dengan Bella.
     Tiba-tiba ada seorang wanita yang memanggil nama Bella saat ia sedang berdansa. Wanita itu ternyata adalah Ratu Estella. Ia sekarang tahu bahwa Bella adalah anak yang ia cari selama ini. Bella pun sangat senang karena bisa bertemu ibunya lagi. Dan ini semua karena Edward.
     Akhirnya, kedua orang tua mereka sepakat untuk mengadakan pernikahan di antara Bella dan Edward. Menurut mereka, Bella dan Edward merupakan pasangan yang sangat serasi. Segala persiapan pernikahan diatur dengan sedemikian rupa agar dapat menjadi pesta yang terbesar dan termegah di antara kedua kerajaan nantinya. Warna-warna yang dipilih mereka diambil dari lambang kerajaan mereka masing-masing yaitu warna merah dan warna putih, serta ditambahkan sedikit dekorasi-dekorasi yang menggunakan warna emas dan perak.
     Seminggu kemudian, acara pernikahan mereka tiba. Pernikahan mereka berlangsung dengan baik dan sesuai rencana. Para tamu banyak yang terpesona melihat Bella dan Edward karena menurut mereka, pernikahan ini sangatlah menarik dan pantas dirayakan dengan mewah. Di pernikahan mereka juga hadir teman-teman kecil Bella yaitu binatang-binatang di hutan tempat tinggalnya dulu. Menurut Bella, ini merupakan pesta terbesar dan terindah dalam hidupnya yang tak bisa ia lupakan seumur hidup.
     Mereka pun hidup bahagia di istana mereka sendiri. Sedangkan rumahnya dulu dijadikan sebagai tempat pelestarian hewan-hewan di hutan. Hutan itu pun sudah resmi dinyatakan sebagai hutan milik kerajaan mereka berdua. Dan sekarang sudah banyak orang yang datang melihat hutan tersebut. Hutan itu sudah tidak ditakuti lagi. Dan akhirnya, semuanya pun hidup bahagia dengan kehidupan mereka masing-masing.
Sabtu, 12 Mei 2012 0 komentar

Puisi


1 komentar

Little Profile


 
;